• Selamat Datang

    Ini adalah blog pribadi saya untuk mengembangkan keilmuan Biologi

  • Apa itu Biologi?

    Biologi adalah ilmu yang mempelajari tentang lingkungan biotik dan abiotik

  • UIN Makassar

    Saya kuliah di UIN Makassar jurusan S1 Biologi.

  • Biologipedia

    Biologipedia adalah salahsatu komunitas biologi online terbesar di Indonesia

  • Hobi saya

    Hobi saya adalah belajar, melakukan penelitan dan berselancar di dunia maya mencari informasi biologi

Medium Pemeliharaan Lalat buah



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mahasiswa biologi pasa zaman ini sangat beruntung karena kita berada di tempat yang tepat pada saat yang tepat. biologi telah melejit sebagai ilmu sentral. biologi kini menjadi ilmu penghubung dari semua ilmu alam, dan merupakan persimpangan tersibuk dan mempertemukan ilmu alam dan ilmu sosial. Biologi telah menjadi berita berhari-hari. kemajuan-kemajuan dalam bioteknologi, ilmu kesehatan, ilmu petanian dan pengawasan lingkungan hanyalah sebagian kecil dari kenyataan betapa biologi begitu mempengaruhi kehidupan masyarakat melebihi masa-masa sebelumnya.
Biologi adalah ilmu yang mengundang inspirasi, biologi adalah ilmu yang penting. Kini kita semakin dekat menuju pemahaman mengenai bagaimana sel tunggal tumbuh atau berkembang menjadi tumbuhan dan hewan, bagaiman fikiran manusia bekerja, dan bagaimana kehidupan yang begitu beragam di muka bumi ini. Untuk mahasiswa dan pengajar biologi tiada masa terindah seindah masa ini. masa ini adalah masa yang menantang untuk belajar biologi.
Salah satu pokok pembahasan di dalam ilmu biologi adalah genetika dan evolusi yang dimana selain mempelajari teori tentang genetika dan evolusi kita juga mempelajari praktikumnya. Yang dimana dalah satu unit praktikum dalam praktikum genetika dan evolusi adalah medium pemeliharaan lalat buah (Drosophila melanogaster). Untuk memelihara lalat buah dapat kita menggunakan berbagai macam medium. Ada medium campuran antara pisang ambon dan tape ketela pohon, ada juga medium campuran pisang ambon, agar-agar, gula merah, ragi, nipagin, sorbic acid, dan aquadest dan diamana medium yang akan digunakan dalam percobaan ini adalah medium yang kedua.
Oleh karena itu untuk mengetahui bagaimana cara pembuatan medium pemeliharaan lalat buah (Drosophila melanogaster), maka dilakukanlah praktikum ini.

B. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui cara pembuatan medium pemeliharaan lalat buah (Drosophila melaoigaster).

C. Waktu dan Tempat
Hari/Tanggal : Kamis : 23 November 2010
Pukul : 09.00 - 11.00 WITA
Tempat : Lab. Pendidikan Biologi
UIN Alauddin Makassar


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Genetika adalah cabang biologi yang berurusan dengan hereditas dan variasi. Unit-unit herediter yang ditramsmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya (dengan kata lain diwariskan) disebut gen. Gen terletak dalam molekul-molekul panjang asam deoksiribonukleat (deoxyribonucleic acid, DNA) yang ada di dalam semua sel. DNA, bersama dengan suatu matriks protein, membentuk nucleoprotein dan terorganisasi menjadi struktur yang disebut kromosom yang ditemukan di dalam nucleus atau daerah inti sel. Sebuah gen mengandung kode informasi bagi produksi protein. Normalnya, DNA adalah molekul yang stabil dengan kapasitas bereplikasi sendiri. Terkadang, bias terjadi perubahan spontan pada suatu DNA. Perubahan itu, disebut mutasi, dapat menyebabkan perubahan kode DNA yang mengakibatkan produksi protein yang salah satu tidak lengka (Stansfield, 2007).
Lalat buah (Drosophila melanogaster) mungkin bagi kebanyakan orang merupakan hewan yang mengganggu dan menjijikan apalagi hewan ini sering kali menjadi musuh bagi para penjual buah-buahan maupun penjual minuman “jus”. Kehadirannya akan membuat para pembeli enggan membeli buah atau jus bila tempat menyimpan buah-buahan ataupun sisa buah yg busuk atau kulit buah yang dibuang di tempat sampah banyak dikerumuni oleh lalat ini. Namun siapa sangka, lalat buah di tangan orang biologi terutama bagi orang yang berkecimpung dalam bidang Genetika justru lalat buah menjadi “hewan primadona”. Ya..ya lalat ini memgang peranan yang penting dalam beberapa pengujian genetika, seperti dalam pengujian Hipotesis Mendel, baik Hukum Mendel 1 atau Hukum Segregasi dan Hukum Mendel II atau Hukum Pemisahan Secara Bebas, pautan seks, crossing over, kromosm politen dan lain sebagainya (Anonima, 2009).
Untuk pemeliharaan stock Drosophila melanogaster dapat digunakan berbagai macam-macam medium. Medium yang m ula-mula dipergunakan adalah campuran antara pisang ambon dan tape ketela pohon dengan perbandingan 6 : 1. Medium tersebut dipakai selama lebih dari 15 tahun. Pada tahun 1984 mulai digunakan beberapa medium yang dicobakan untuk dapat pula ppemeliharaan jenis-jenis Drosiphila lainnya dan beberapa tahun terakhir ini telah digunakan resep yang baru. Hal ini disebabkan oleh karena kualitas tape dan pisang ambon yang tidak seragam, sehingga dirasakan perluuntuk memperoleh medium yang lebih padat dan dapat diandalkan. Resep baru yang akan dipakai merupakan modifikasi dari resep yang telah ada dan yang disesuaikan dengan kondisi Indonesia (Hartati, 2009).
Panen telur pada lalat buah dilakukan sejak lalat berumur 10 hari selama satu-tiga minggu. Botol pengumpul telur dipasang pada lubang yang telah tersedia pada kurungan. Botol pengumpul telur, yang merupakan buah tiruan, adalah botol plastik ukuran Ø 5 x 30 cm, dindingnya berlubang-lubangan Ø 0,2 – 0,5 mm dengan kerapatan 1 x 1 cm. Sebelum dipasang, botol diisi potongan karet busa jenuh air atau jus buah untuk menarik lalat, dan untuk mempertahankan kelembapan di dalam botol, agar telur yang diletakkan tidak mengalami kekeringan. Botol dipasang selama 24 jam, biasanya mulai 08.00 pagi. Telur diletakkan oleh lalat dewasa dengan ovipositornya kedalam lubang-lubang di dinding botol, sehingga massa telur akan terkumpul pada lubang-lubang tersebut. Panen telur dilakukan pagi hari berikutnya. Telur dikumpulkan dengan cara membasuh permukaan dalam botol, dan menampungnya di atas nampan, kemudian disaring. Karena telur yang bernas tenggelam, maka dapat dengan mudah dipisahkan dari yang rusak. Massa telur yang dihasilkan dapat diukur secara volumetric, satu cc telur berisi ± 18.000 butir.
Pengujian mutu telur dapat dilakukan dengan mengamati persentase pene-tasannya. Dari massa telur diambil sampel 4 x 100 butir untuk diletakkan di atas kertas saring warna gelap yang jenuh air. Kertas diletakkan di atas cawan Petri dan diinkubasi selama 2 x 24 jam. Jumlah telur yang menetas diamati di bawah mikroskop (Anonimb, 2009).
Dalam sejarah genetika sebagai ilmu, relative hanya baru-baru ini sajalah DNA menjadi pusat perhatian. Lebih dulu, perhatian dipusatkan pada hereditas, yaitu pada pola-pola pewarisan sifat yang ada (mata biri, warna merah bunga, ekor pendek) dari induk ke keturunananya. Diperkirakan bahwa sifat-sifat yang diwariskan ini diatur oleh gen-gen ditata secara linear sepanjang kromosom pada hewan dan tumbuhan tinggi. Disusunlah “peta” urutan gen pada kromosom, dan ditelitilah banyak rincian mengenai penurunana atau transmisigen dari generasi ke generasi, jauh sebelum banyak yang diketahui tentang apa gen itu dan bagaimana kerjanya (Goodenough, 1988).
Orang yang pertama melakukan percobaan perkawinan silang adalah Gregor Mendel seorang rahib Austria yang hidup pada tahun1822-1884 di sebuah biara laki-laki di kota kecil brunn. Dia dating di biara itu pada tahun 1851 sebagai anak miskin. Dalam tahun 1851 ia dikirim ke universitas wina untuk belajar ilmu pengetahuan alam, tetapi ia tidak mendapatkan nilai baik untuk fisika dan matematika (Suryo, 2006).
Seorang ahli genetika bernama Morgan meneliti pada pembastaran lalat buah. Ia membastarakan lalat buah jantan mata putih (disingkat jantan putih) dengan lalat buah betina mata merah (disingkat beina merah). Diperoleh keturunan F1 yang semuanya mata merah, baik yang jantan maupun yang betina. Bila jantan F1 (mata merah) dibastarrkan dengan betina F1 (mata merah), akan diperoleh keturunan F2 : 3 bagian mata merah, dan 1 bagian mata putih. Jadi di sini mata merah dominan terhadap mata putih. Dari turunana F2 yang diperoleh tadi, yang betina semuanya mata merah, serta yang jantan 50% mata merah dan 50% mata putih (Prawoto, 1994).



BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Timbangan
b. Baskom
c. Pengaduk
d. Kompor gas
e. Botol Kultur
f. panci
g. Pisau
h. Gelas ukur
i. Lumpang dan alu

2. Bahan
a. Pisang ambon
b. Gula merah
c. Agar-agar
d. Aquadest
e. Ragi
f. Nipagin
g. Sorbic acid
h. Plastik
i. Karet gelang
j. Ketas saring

B. Prosedur Kerja
1. Menyediakan semua alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Mengupas kulit pisang ambon lalu memutongnya kecil-kecil lalu ditimbang.
3. Menghaluskan pisang ambon yang telah dipitong kecil hingga betul-betul halus dengan menggunakan lumpang dan alu.
4. Mencampurkan gula merah dengan aquadest lalu memasaknya hingga larut dan mendidih.
5. Mencampurkan agar-agar dan pisang ambon yang telah di haluskan ke dalam campuran gula merah dan aquadest yang telah mendidih, kemudian mengaduknya hingga rata sampai matang.
6. Membiarkan adonan mendidih selama ± 15 menit.
7. Melarutkan ragi roti tersebut ke dalam air dan mencampurkannya ke dalam adonan yang sudah mulai menurun sekitar 400C.
8. Mencampurkan anti jamur yang telah dipersiapkan sebelumnya.
9. Menuangkan adonan yang masih panas ke dalam botol kultur yang telah disterilkan terlebih dahulu.
10. Memasukkan kertas saring ke dalam botol kultur yang telah di beri adonan.
11. Botol biakan siap diperguakan apabila telah dingin.



B. Pembahasan
Percobaan petama pada praktikum genetika dan evolusi adalah membuat medium pemeliharaan lalat buah (Drsophila melanogaster). Dimana dalam pembuatan medium pemeliharaannya digunakan berbagai macam bahan. Bahan yang digunakan yaitu pisang ambon, agar-agar, gula merah, ragi, nipagin, sorbic acid dan aquadest. Bahan ini kemudian diolah sesuai dengan prosedur kerja yang ada. Bahan yang digunakan memiliki peranan yang penting dimana pisang ambon dan gula merah berfungsi sebagai sumber karbohidrat, agar-agar digunakan agar adonan yang dihasilkan lebih padat, ragi berfungsi untuk mengembangkan aadonan, nipagin sebagai anti jamur, sorbic acid untuk mencegah timbulnya bakteri, dan aquadest berfungsi sebagai pelarut. Setiap bahan memiliki takaran masing-masing sesuai dengan jumlah botol kultur yang akan dijadikan media pemeliharaan. Per 30 botol medium digunakan 300 gram pisang ambon, 7 gram agar-agar, 150 gram gula merah, 20 gram ragi, 7 ml nipagin, 5 ml sorbic acid dan 411 ml aquadest. Karena pada percobaan kali ini kami menggunakan 60 botol kultur yang akan dijadikan medium, maka setiap takaran bahan dapat dikali 2 agar dapat mencukupi semua wadah atau botol kultur.
Adapun Fungsi masing-masing alat yang digunakan adalah :
1. Timbangan berfungsi sebagai alat unruk menimbang bahan-bahan yang akan digunakan.
2. Baskom berfungsi sebagai alat untuk menyimpan bahan-bahan yang telah ditimbang.
3. Pengaduk berfungsi sebagai alat untuk mengaduk bahan yang telah dicampurkan di dalam panci pada saat dimasak.
4. Kompor gas berfungsi sebagai alat untuk memasak bahan-bahan hingga mendidih.
5. Botol kultur berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan medium pemeliharaan lalat buah.
6. Panic berfungsi sebagai wadah untuk menampung campuran bahan yang akan di masak dan di didihkan.
7. Pisau berfingsi sebagai alat untuk memotong-motong bahan yang digunakan.
8. Gelas ukur berfungsi sebagai wadah untuk menampung bahan yang bersifat cair.
9. Lumpang dan alu berfungsi sebagai alat untuk menghaluskan pisang ambon.
10. Gunting berfungsi sebagai alat untuk memotong kertas saring dan plastik.
Medium yang telah selesai di buat masih banyak memiliki kekurangan karena lalat buah yang di masukkan ke dalam medium sebagian besar mati atau meninggal. Sehingga tidak dapat berkembang biak.




BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah cara pembuatan medium pemeliharaan lalat buah tidak dilakukan secara asala-asalan melainkan setiap bahan memiliki takaran tertentu.
B. Saran
a. Laboratorium
Adapun saran yang dapat saya berikan untuk laboratorium atau laboran adalah hendaknya laboran dapat lebih melengkapi semua alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum.
b. Asiasten
Hendaknya asisten lebih memperhatikan lagi praktikannya dalam melakukan percobaan agar semua paktikan dapat bersungguh-sungguh dalam melakukan praktikkum.
c. Praktikan
Para praktikan dalam melakukan praktikum hendaknya dapat bersungguh-sungguh dan tidak main-main agar dapat memperoleh hasil yang maksimal.






DAFTAR PUSTAKA

Anonima.2009. file:///C:/Documents%20and%20Settings/user/My%20Documents/Lili
S%20FiLe/teknik-pembiakan-massal-hama-lalat-buah.html. Diakses pada tgl 25 Oktober 2010

Anonimb. 2009. www.duniasatwa.com/forums/archive/index.php/t-102.html. Diakses
pada hari senin 19 Oktober 2009

Goodenough, Ursula. 1988. Genetika Edisi Ketiga Jilid I. Jakarta. Erlangga.

Hartati. S.si, M.Si. 2009. Penuntun Praktikum Genetika. Makassar: Jurusan Biologi
FMIPA UNM

Prawoto, Drs. 1994. Genetika dan Evolusi. Jakarta. Depdikbud

Suryo. 2005. Genetika Strata I. Yogyakarta. UGM

Stansfield, William. 2006. Genetika Edisi keempat. Jakarta. Erlangga.

kromosom kelenjar ludah lalat buah

kromosom raksasa
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mahasiswa biologi pasa zaman ini sangat beruntung karena kita berada di tempat yang tepat pada saat yang tepat. biologi telah melejit sebagai ilmu sentral. biologi kini menjadi ilmu penghubung dari semua ilmu alam, dan merupakan persimpangan tersibuk dan mempertemukan ilmu alam dan ilmu sosial. Biologi telah menjadi berita berhari-hari. kemajuan-kemajuan dalam bioteknologi, ilmu kesehatan, ilmu petanian dan pengawasan lingkungan hanyalah sebagian kecil dari kenyataan betapa biologi begitu mempengaruhi kehidupan masyarakat melebihi masa-masa sebelumnya.
Biologi adalah ilmu yang mengundang inspirasi, biologi adalah ilmu yang penting. Kini kita semakin dekat menuju pemahaman mengenai bagaimana sel tunggal tumbuh atau berkembang menjadi tumbuhan dan hewan, bagaiman fikiran manusia bekerja, dan bagaimana kehidupan yang begitu beragam di muka bumi ini. Untuk mahasiswa dan pengajar biologi tiada masa terindah seindah masa ini. masa ini adalah masa yang menantang untuk belajar biologi.
Salah satu pokok pembahasan di dalam ilmu biologi adalah genetika dan evolusi yang dimana selain mempelajari teori tentang genetika dan evolusi kita juga mempelajari praktikumnya. Yang dimana dalah satu unit praktikum dalam praktikum genetika dan evolusi adalah kromosom raksasa. Dimana dalam mengamati kromosom raksasa yang digunakan adalah larva lalat buah Drosophila melanogaster instar III dan dimana kromosom rakssa pada larva itu terletak pada bagian anteriornya yang tepatnya pada kelenjar ludah. Kkromosom raksasa memiliki ukuran yang lebih besar dari kromosom biasanya.
Oleh karena itu untuk mengetahui bagaimana bentuk dan morfologi dari kromosom raksasa maka dilakukanlah pecobaan kromosom raksasa ini.
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengamati kromosom raksasa pada kelenjar ludah larva instar III dari lalat buah (Drosophila melanogaster).
C. Manfaat
Manfaat dari praktikum ini adalah praktikan dapat mengamati secara lansung kromosom raksasa pada kelenjar ludah dari larva instar III dari lalat buah (Drosophila melanogaster).



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kromosom raksasa yang terdapat pada kelenjar ludah Drosophila melanogaster terbentuk karena proses endomitosis dimana strand kromosom mereplikasi terus menerus tanpa terjadi pembelahan inti. Proses endomitosis menghasilkan bentukan kromosom yang besar dan panjang seperti pita, atau yang biasa disebut kromosom polytene. Dalam anonim disebutkan bahwa kromosom dalam kelenjar ludah Drosophila melanogaster membelah beberapa kali tetapi masing-masing strand tidak membelah. Strand-strand tersebut tetap menempel antara satu dengan yang lain. Dengan kata lain, kromosom raksasa ini memiliki banyak copy gen yang tidak memisah antara satu dengan yang lain, sehingga di dalam satu sel terdapat kopian informasi dari beberapa gen di dalam kromosom. Namun saat terjadi endoreplikasi yang berulang-ulang pada kromosom, ada bagian yang tidak ikut membelah dengan maksimal, yakni daerah sentromer. Sebagai hasilnya, sentromer kromosom tergabung bersama-sama menjadi bentukan padat yang dinamakan sentrosenter (Gardner, 1991).
Kromosom ini disebut kromosom raksasa karena sesungguhnya kromosom ini adalah kromosom interfase yang memiliki ukuran lebih panjang daripada kromosom metaphase sehingga kromosom ini dapat dilihat (pada fase interfase) dimana pada kondisi tersebut semua kromosom lain tidak terlihat. Kromosom raksasa dibentuk oleh peristiwa endomitosis, yaitu suatu replikasi yang menghasilkan banyak kromosom yang tidak terpisah satu dengan yang lain. Struktur kromosom raksasa ini tersusun atas pita terang dan pita gelap. Pita terang mengandung eukromatin dengan lilitan yang renggang sedangkan pita gelap mengandung heterokromatin dengan lilitan yang padat, mengalami kondensasi, dan berperan aktif dalam pembelahan. DNA umumnya terdapat pada pita-pita yang gelap (Kimball, 1990).
Dalam sel yang sedang membelah, kromosom biasanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop biasa. Akan tetapi untuk mempelajari struktur halusnya, harus digunakan sebuah mikroskop elektron, karena dapat memberikan perbesaran jauh lebih kuat. Kromosom dibedakan atas autosom (kromosom tubuh) dan kromosom kelamin (kromosom seks). Kecuali beberapa hewan tertentu, maka kebanyakan makhluk memiliki sepasang kromosom kelamin dan sisanya merupakan autosom. Lalat buah (Drosophila melanogaster) yang sering digunakan untuk penyelidikan genetika mempunyai 8 kromosom, 6 autosom dan 2 kromosom kelamin (Suryo, 1986).
Untuk mendapatkan kromosom raksasa ini perlu didapatkan terlebih dahulu kelenjar ludah larva instar 3 Drosophila melanogaster. Kelenjar ludah ini terletak di daerah antara kepala dengan leher. Warna kelenjar ludah adalah transparan dan akan berubah menjadi keruh saat ditetesi larutan fiksatif FAA. Kelenjar ludah Drosophila melanogaster berjumlah sepasang dengan bentuk seperti ginjal. Sebelum diamati, terlebih dahulu kelenjar ludah yang telah didapatkan ditetesi dengan acetocarmin. Pemberian acetocarmin ini bertujuan untuk memberikan pewarnaan pada kromosom sehingga kromosom lebih mudah diamati. Kromosom raksasa yang ditemukan berwarna transparan dengan suatu ciri yang khas yang mudah dikenali, yaitu terdapat garis-garis pita gelap dan terang berseling teratur. Dengan perbesaran mikroskop lemah, kromosom ini sudah dapat diamati dengan cukup jelas (Iqbal, 2007).
Jenis kelamin kita merupakan salah satu karakter fenotipik kia yang lebih nyata. Meskipun perbedaan anatomis dan fisiologis antara pria dan wanita banyak, dasar kromosom seksnya sedikit lebih sederhana. Pada manusia dan mamalia lain, seperti pada lalat buah, ada dua varietas kromosom seks dilambangkan dengan X dan Y. Seseorang yang mewarisi dua sifat X, satu dari masing-masing orang tuanya biasanta berkembang dari sebuah zigot yang mengandung satu kromosom X dan satu kromosom Y. Disamping dalam menentukan jenis kelamin, kromosm seks, terutama kromosom X, memiliki gen-gen untuk banyak karakter yang tidak berkaitan dengan seks (Campbell, 2001).
Kromosom raksasa biasanya ditemukan pada stadium larva. Hal ini dapat dimengerti karena dengan adanya replikasi kromosom yang berulang-ulang (untuk membentuk kromosom raksasa) ini akan menguntungkan bagi larva yang sedang tumbuh dengan cepat daripada jika sel tersebut tetap diploid. Pembentukan kromosom raksasa tidak hanya terjadi pada kelenjar ludah larva prepupa Drosophila melanogaster tetapi juga terjadi pada sel-sel perawat pada ovarium, sel folikel yang mengelilingi oosit, sel-sel lemak, sel usus dan histoblas abdominal. Jadi selain pada kelenjar ludah, kromosom raksasa juga ditemukan pada sel-sel tersebut. Perbedaannya adalah pada letak penggembungan. Seperti halnya kromosom biasa lainnya, kromosom raksasa ini juga berfungsi untuk mengatur kegiatan metabolisme di dalam sel dan mengatur semua sistem kerja di dalam sel tersebut (Iqbal, 2007).
Kromosom raksasa biasanya ditemukan pada stadium larva. Hal ini dapat dimengerti karena dengan adanya replikasi kromosom yang berulang-ulang (untuk membentuk kromosom raksasa) ini akan menguntungkan bagi larva yang sedang tumbuh dengan cepat daripada jika sel tersebut tetap diploid. Pembentukan kromosom raksasa tidak hanya terjadi pada kelenjar ludah larva prepupa Drosophila melanogaster tetapi juga terjadi pada sel-sel perawat pada ovarium, sel folikel yang mengelilingi oosit, sel-sel lemak, sel usus dan histoblas abdominal. Jadi selain pada kelenjar ludah, kromosom raksasa juga ditemukan pada sel-sel tersebut. Perbedaannya adalah pada letak penggembungan. Seperti halnya kromosom biasa lainnya, kromosom raksasa ini juga berfungsi untuk mengatur kegiatan metabolisme di dalam sel dan mengatur semua sistem kerja di dalam sel tersebut (Anonim, 2009).

BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Hari/tanggal : Jumat, 13 Oktober 2009
Waktu : Pukul 09.10 s.d 10.40 WITA
Tempat : Laboratorium Biologi Lantai II Barat FMIPA UNM
B. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Mikroskop
b. Cawan Petri
c. Pinset
d. Objek glass
e. Deck glass
f. Bunsen
2. Bahan
a. Larva instar III lalat buah (Drosophila melanogaster)
b. Acetokarmin
c. NaCL fisiologis
C. Prosedur Kerja
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Mengeluarkan larva Drosophila melnogaster dari mediumnya.
3. Memasukkan larva ke dalam cawan petri yang berisi NaCL fisiologis.
4. Meletakkan segera larva di atas object glass dan menggambar morfologinya.
5. Selanjutnya memotong bagian kepala larva dengan silet dan meletakkan di objek glass dan menutup dengan deck glass, dan mengamati di bawah mikroskop.
6. Mengambil kembali kepala larva dan melakukan kegiatan seperti nomor 4 namun ditetesi dengan acetokarmin.
7. Memfiksasi sampai zat warna mengering di atas Bunsen.
8. Mengamati dengan menggunakan mikroskop binokuler.










BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil pengamatan






B. Pembahasan
Pada praktikum genetika dan evolusi pada kesempatan ini, kami akan melakukan percobaan tentang kromosom raksasa. Pada percobaan kali ini bahan yang digunakan adalah larva instar III dari lalat buah (Drosophila melanogaster). Yang akan diamati pada larva lalat buah tersebut adalah bagian anteriornya yang dimana pada daerah anterior tersebut terdapat kelenjar ludah yang dimana pada kelenjar ludah tersebut terdapat kromosom raksasa. Kromosom ini disebut kromosom raksasa karena sesungguhnya kromosom ini adalah kromosom interfase yang memiliki ukuran lebih panjang daripada kromosom metaphase sehingga kromosom ini dapat dilihat (pada fase interfase) dimana pada kondisi tersebut semua kromosom lain tidak terlihat. Kromosom raksasa dibentuk oleh peristiwa endomitosis. Struktur kromosom raksasa ini tersusun atas pita terang dan pita gelap. Diamana pita terang mengandung eukromatin dengan lilitan yang jarang-jarang atau longgar sedangkan pita gelap mengandung heterokromatin dengan lilitan yang padat. Kelenjar ludah ini terletak di daerah antara kepala dengan leher pada bagian anterior larva. Kelenjar ludah lalat buah (Drosophila melanogaster) berjumlah dua buah atau sepasang dengan bentuk seperti ginjal. Sebelum diamati, terlebih dahulu kelenjar ludah yang telah didapatkan ditetesi dengan acetocarmin. Pemberian acetocarmin ini berfungsi untuk memberikan pewarnaan pada kromosom sehingga kromosom lebih mudah untuk diamati. Dengan perbesaran mikroskop lemah, kromosom ini sudah dapat diamati dengan cukup jelas. Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data dapat diketahui bahwa kromosom raksasa yang ditemukan pada kelenjar ludah lalat buah (Drosophila melanogaster) memiliki bentukan yang besar dan panjang. Berbeda dengan kromosom yang biasa, kromosom raksasa ini dapat diamati pada mikroskop dengan perbesaran lemah. Secara umum, kromosom raksasa ini sama dengan kromosom biasa, salah satu perbedaan terletak pada proses terbentuknya dan jumlah lengannya.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan dari percobaan yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Kromosom raksasa adalah kromoson yang ukurannya lebih besar dari kromosom biasa. Memiliki 2 lengan atau lebih. Pada kelenjar ludah dari larva Drosophila melanogaster instar III memiliki bentuk seperti benang, ukurannya lebih panjang dibandingkan ukuran kromosom pada umumnya.
B. Saran
a. Laboratorium
Adapun saran yang dapat saya berikan untuk laboratorium atau laboran adalah hendaknya laboran dapat lebih melengkapi semua alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum.
b. Asiasten
Hendaknya asisten lebih memperhatikan lagi praktikannya dalam melakukan percobaan agar semua paktikan dapat bersungguh-sungguh dalam melakukan praktikkum.
c. Praktikan
Para praktikan dalam melakukan praktikum hendaknya dapat bersungguh-sungguh dan tidak main-main agar dapat memperoleh hasil yang maksimal.





DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2009. Kromosom Yang Dipengaruhi Oleh Seks. http://wiki/Gen/seks.or.id Diakses pada tanggal 12 November 2009.

Gardner, E.J, dkk. 1991. Principles of Genetics. New York: John Wiley and Sons, Inc.

Campbell. 2001. Biologi Edisi Kelima Jilid I. Jakarta: Erlangga

Iqbal, Mochammad. 2007. Pengamatan Kromosom Raksasa pada Drosophila melanogaster. Http://www.bio_um.blogospot.com. Diakses Jum’at, 28 Maret 2008.

Kimball, W, John. 1990. Biologi Jilid I. Jakarta: Erlangga.

Manning, Gerard. 2006. A Quick and Simple Introduction to Drosophila melanogaster, (Online), (www.ceolas.org/fly/intro.html, diakses tanggal 10 Maret 2007).

Suryo. 1986. Genetika Manusia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Alel Ganda

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Biologi adalah ilmu yang mengundang inspirasi, biologi adalah ilmu yang penting. Biologi merupakan ilmu alam yang mengarah kepada pemahaman mengenai bagaimana sel tunggal tumbuh atau berkembang menjadi tumbuhan dan hewan, bagaiman fikiran manusia bekerja, dan bagaimana kehidupan yang begitu beragam di muka bumi ini.

Cabang ilmu genetika yang merupakan salah satu cabang ilmu dari Biologi sekarang ini juga telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Penurunan sifat yang merupakan cakupan yang paling umum dalam genetika telah menghasilkan penemuan-penemuan terbaru yang patut diperhitungkan. Mutasi, kloning, bayi tabung dan masih banyak lagi rekayasa-rekayasa genetika lainnya mulai di praktekkan oleh para ahli biologi di seluruh dunia.

Beberapa sifat keturunan pada manusia yang ditentukan oleh pengaruh alel ganda, yaitu warna rambut pada kelinci, warna mata pada Drosophila melanogaster dan golongan darah pada manusia. Namun, pada praktikum kali ini kami hanya melakukan percobaan khususnya mengenai golongan darah pada manusia sebagai herediter yang ditentukan oleh alel ganda karena mudah diperoleh. Selain untuk lebih mengetahui mengenai golongan darah sebagai pengaruh peranan alel ganda, praktikan juga dapat menentukan sendiri golongan darahnya. Bahan utama yang digunakan berupa serum anti A dan serum anti B yang diteteskan pada darah probandus. Penentuan golongan darah didasarkan atas ada tidaknya suatu zat tertentu di dalam sel darah merah, yaitu dikenal dengan nama aglutinogen (antigen) dengan mengamati aglutinasi yang terjadi pada cairan darah. Oleh karena itu, perlu dipahami mengenai aglutinogen (antigen), aglutinin (antibodi) dan aglutinasi untuk memudahkan dalam melakukan praktikum.

B. Tujuan

Kegiatan praktikum ini bertujuan untuk mengenal beberapa sifat keturunan oleh pengaruh alel ganda dan mencoba menetapkan genotip.



BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Genetika berasal dari bahasa yaitu Yunani γέννω atau genno yang berarti "melahirkan" merupakan cabang biologi yang penting saat ini. Ilmu ini mempelajari berbagai aspek yang menyangkut pewarisan sifat dan variasi sifat pada organisme maupun suborganisme (seperti virus dan prion). Ada pula yang dengan singkat mengatakan, genetika adalah ilmu tentang gen. Nama "genetika" diperkenalkan oleh William Bateson pada suatu surat pribadi kepada Adam Chadwick dan ia menggunakannya pada Konferensi Internasional tentang Genetika ke-3 pada tahun 1906. Meskipun orang biasanya menetapkan genetika dimulai dengan ditemukannya kembali naskah artikel yang ditulis Gregor Mendel pada tahun 1900, sebetulnya kajian genetika sudah dikenal sejak masa prasejarah, seperti domestikasi dan pengembangan trah-trah murni (pemuliaan) ternak dan tanaman. Orang juga sudah mengenal efek persilangan dan perkawinan sekerabat serta membuat sejumlah prosedur dan peraturan mengenai hal tersebut sejak sebelum genetika berdiri sebagai ilmu yang mandiri. Silsilah tentang penyakit pada keluarga, misalnya, sudah dikaji orang sebelum itu. Kala itu, kajian semacam ini disebut "ilmu pewarisan" atau hereditas (Anonim, 2009).

Kita ketahui bahwa pengertian alel ganda ialah bahwa dalam suatu populasi individu jumlah jenis alel pada suatu lokus terdapat lebih dari dua. Contoh yang sudah cukup luas dikenal ialah golongan darah pada manusia. Di kenal ada empat jenis golongan darah, yaitu A, B, AB dan O, yang dikendalikan oleh tiga alel, yaitu IA, IB, dan i. Alel-alel tersebut bertanggung jawab dalam mengendalikan pembentukan antigen sel darah, alel IA dan alel IB masing-masing mengendalikan pembentukan antigen A dan antigen B, sedangkan alel i tidak membentuk antigen. Antara alel IA dengan alel IB terdapat hubungan kodominan, yang berarti genotipe IA IB dapat emproduksi antigen A dan antigen B. Alel IA dan alel IB kedua-duanya terhadap alel i. Dengan keterangan tersebut maka akan diperoleh genotype IA IA dan IA Ii (golongan darah A) akan memproduksi antigen A, genotype IB IB dan IB Ii (golongan darah B) akan menghasilkan antigen B; genotype IA IB (golongan darah AB) mempunyai antigen A dan B, sedangkan genotype ii (golongan darah O) tidak memproduksi antigen

(Jusuf, 2001).

Pengertian alel ganda adalah faktor yang memiliki lebih dari dua macam alel, sekalipun tidak ada satu pun makhluk diploid yang mempunyai lebih dari dua macam alel untuk tiap faktor. Sebab timbulnya alel ganda adalah peristiwa mutasi gen. Stanfield (1983) mengatakan “Karena suatu gen dapat berubah menjadi bentuk-bentuk alternatif oleh proses mutasi, secara teoritis di dalam suatu populasi mungkin dijumpai sejumlah besar alela” (Corebima, 1997).

Pada manusia, hewan dan tumbuhan dikenal beberapa sifat keturunan yang ditentukan oleh suatu seri alel ganda. Golongan darah ABO yang ditemukan oleh Landsteiner pada tahun 1900 dan faktor Rh yang ditemukan oleh Landsteiner bersama Weiner pada tahun 1942 juga ditentukan oleh alel ganda. Untuk golongan darah tipe ABO misalnya, dikenal oleh alel ganda IA, IB, dan i (Hartati, 2009).

Banyak para ilmuan mengikuti penemuan Landsteiner tentang penggumpalan sel-sel darah merah dan pengertian tentang reaksi antigen-antibodi, maka penyelidikan selanjutnya memberi penegasan mengenai adanya dua antibodi alamiah di dalam serum darah dan dua antigen pada permukaan dari eritrosit. Salah seorang dapat membentuk salah satu atau dua antibodi atau sama sekali tidak membentuknya. Demikian pula dengan antigennya. Dua antigen itu disebut antigen –A dan antigen –B, sedangkan dua antibodi disebut anti –A (atau α) dan anti –B (atau β). Melalui tes darah maka setiap orang dapat mengetahui golongan darahnya. Berdasarkan sifat kimianya, antigen –A dan –B merupakan mukopolisakharida, terdiri dari protein dan gula. Dalam dua antigen itu bagian proteinnya sama, tetapi bagian gulanya merupakan dasar kekhasan

antigen-antibodi. Golongan darah seseorang ditentukan oleh macamnya antigen yang dibentuknya (Suryo, 1986).

Ada bermacam golongan darah pada manusia, salah satu contoh itu herediter (keturunan) yang ditentukan oleh alel ganda. Berhubungan dengan itu, golongan darah seseorang dapat mempunyai arti penting dalam kehidupan. Pada permulan abad ini (tahun 1900 dan 1901) K. Landsteiner menemukan bahwa penggumpalan darah (aglutinasi) kadang-kadang terjadi apabila eritrosit (sel darah merah) seseorang dicampur dengan serum darah orang lain. Akan tetapi pada orang lain, campuran tadi tidak mengakibatkan penggumpalan darah. Berdasarkan reaksi tadi, maka Landsteiner membagi orang menjadi tiga golongan, yaitu A, B dan O. Golongan yang keempat jarang sekali dijumpai, yaitu golongan darah AB, telah ditemukan oleh dua orang mahasiswa Landsteiner dalam tahun 1902, ialah A. V. von Decastello dan A. Sturli (Suryo, 1984).

Dilihat dari golongan ABO, manusia dikelompokkan menjadi 4 golongan. Penggolongan ini didasarkan atas ada tidaknya suatu zat tertentu di dalam sel darah merah, yaitu yang dikenal dengan nama aglutinogen (antigen). Ada dua macam aglutinogen yaitu aglutinogen A dan aglutinogen B. Aglutinogen merupakan polisakarida, dan terdapat tidak saja terbatas di dalam sel darah merah tetapi juga kelenjar ludah, pankreas, hati, ginjal, paru-paru, testes dan semen. (Kartolo, 1993).

BAB III

METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Hari/ Tanggal :Rabu, 19 November 2010

Waktu :09.00 sampai 11.00 WITA

Tempat :Laboratorium Pendidikan biologi
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar


B. Alat dan Bahan

a. Alat

1. 2 buah plat tetes

2. 3 buah / blood lancet

b. Bahan

1. 3 tetes Darah probandus

2. 3 tetes Anti serum (serum anti –A dan anti –B)

3. Alkohol 70% secukupnya

4. Kapas secukupnya


C. Prosedur Kerja

Adapun langkah kerja pelaksanaan praktikum ini adalah sebagai berikut:

1. Mengambil darah dengan membersihkan salah satu ujung jari dengan kapas yang dibasahi alkohol 70% dan membersihkan pula blood lancet dengan alkohol. Membiarkan alkohol mengering.

2. Menusukkan blood lancet ke jari yang telah dibersihkan dengan alkohol.

3. Membuang darah pertama yang keluar dari luka.

4. Meneteskan darah kedua di atas plat tetes yang diberi tanda A dan dan tanda B, kemudian meneteskan serum anti A pada darah (tanda A), dan serum anti B pada darah (tanda B).

5. Mengaduk darah yang telah ditetesi serum anti A dan anti B, mengamati pembekuan darah.

6. Apabila terjadi penggumpalan hanya pada A, maka bergolongan darah A. Bila terjadi penggumpalan pada B maka golongan darah B. Bila terjadi penggumpalan keduanya maka golongan darah AB dan bila tidak ada penggumpalan maka golongan darah O.

7. Mencatat hasil pengamatan.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

No


Nama Golongan darah

Fadli Kamal B
Muallimah AB
Aminullah 0
Lutfuatul H 0

D L L

B. Pembahasan

Setelah mengikuti praktikum dengan unit Alel Ganda ini, praktikan memiliki pengetahuan mengenai cara mengidentifikasi golongan darah pada manusia. Hasil dari pengidentifikasian yang dilakukan pada setiap praktikan (probandus) adalah sebagai berikut sebagai berikut:

· Golongan darah A = 17 probandus dengan persentase sebanyak 36%

· Golongan darah B = 16 probandus dengan persentase sebanyak 34%

· Golongan darah AB = 1 probandus dengan persentase sebanyak 1%

· Golongan darah O = 13 probandus dengan persentase sebanyak 30%

Bahan utama yang digunakan dalam melakukan identifikasi adalah berupa serum anti A dan serum anti B yang diteteskan pada darah probandus. Jika pada anti serum A terjadi penggumpalan (aglutinasi) sedangkan anti serum B tidak, maka golongan darah probandus adalah A. Bila terjadi sebaliknya, maka golongan darah probandus adalah B. Bila kedua-duanya mengalami penggumpalan maka golongan darah probandus adalah AB. Bila kedua-duanya tidak mengalami penggumpalan maka golongan darah probandus adalah O.

Menurut Jusuf (2001), dikenal ada empat jenis golongan darah, yaitu A, B, AB dan O, yang dikendalikan oleh tiga alel, yaitu IA, IB, dan i. Alel-alel tersebut bertanggung jawab dalam mengendalikan pembentukan antigen sel darah, alel IA dan alel IB masing-masing mengendalikan pembentukan antigen A dan antigen B, sedangkan alel i tidak membentuk antigen. Antara alel IA dengan alel IB terdapat hubungan kodominan, yang berarti genotipe IA IB dapat memproduksi antigen A dan antigen B. Alel IA dan alel IB kedua-duanya terhadap alel i. Dengan keterangan tersebut maka akan diperoleh genotipe IA IA dan IA Ii (golongan darah A) akan memproduksi antigen A, genotipe IB IB dan IB Ii (golongan darah B) akan menghasilkan antigen B; genotipe IA IB (golongan darah AB) mempunyai antigen A dan B, sedangkan genotipe ii (golongan darah O) tidak memproduksi antigen.

Dalam transfusi darah golongan darah AB dapat menerima sumbangan dari semua golongan darah (tidak akan terjadi penggumpalan), sebaliknya golongan darah O hanya dapat menerima sumbangan dari golongan darah yang sama, golongan darah lainnya akan digumpalkan. Bila dilihat dari sudut donor, golongan darah O dapat menyumbangkan darah untuk semua golongan darah, sedangkan golongan darah AB dapat menjadi donor hanya untuk golongan darah yang sama. Golongan darah A dan B dapat menjadi penerima sumbangan dari golongan darah O dan dari golongan darah sejenis dan dapat menjadi donor untuk golongan AB dan golongan sejenis (Jusuf, 2001).

Dari penjelasan teori di atas dapat diketahui bahwa sangat penting mengenal golongan darah sebelum melakukan transfuse darah. Pada serum darah merah akan dibentuk anti bodi. Pada serum darah merah akan dibentuk anti bodi yang dapat mengenali anti gen sel darah merahnya dan antigen asing yang masuk dari luar. Antibodi akan menggumpalkan antigen yang berbeda dari antigen yang dibentuk oleh sel darah merahnya. Jadi antibodi golongan darah A (yang memproduksi antigen A) akan menggumpalkan antigen B dan antibodi golongan darah B (yang memproduksi antigen B) akan menggumpalkan anti gen A. Jika antibody tidak dapat menggumpalkan antigen A dan B karena memproduksi dengan baik antigen tersebut maka golongan darahnya adalah AB. Sebaliknya, jika tidak mengandung antigen baik A maupun B, antibodinya akan menganggap kedua antigen tersebut sebagai zat asing sehingga kedua-duanya akan digumpalkan maka golongan darahnya adalah golongan darah O.

Menurut Suryo (1984), menurunnya alel-alel ganda dapat diikuti dari beberapa contoh perkawinan berikut ini:

1. Suami-istri masing-masing bergolongan darah O akan mempunyai keturunan bergolongan darah O saja.

2. Seorang laki-laki bergolongan darah A menikah dengan seorang perempuan bergolongan darah O. Kemungkinan keturunannya, 50 % bergolongan darah A dan 50 % bergolongan darah O.

3. Seorang laki-laki bergolongan darah B menikah dengan seorang perempuan bergolongan darah B pula. Kemungkinan keturunannya, 75 % bergolongan darah B dan 25 % bergolongan darah O.

4. Pria bergolongan darah B menikah dengan wanita bergolongan darah A. Kemungkinan keturunannya, 25 % bergolongan darah AB dan 25 % bergolongan darah A, 25 % bergolongan darah B dan 25 % bergolongan darah O.


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Golongan darah manusia merupakan salah satu sifat keturunan yang ditentukan oleh alel ganda. Genotipe golongan darah A adalah IA IA dan IA Ii, genotipe golongan darah B adalah IB IB dan IB Ii, genotipe golongan darah AB adalah IA IB dan genotipe golongan darah O adalah ii.

2. Persentase golongan darah yang diperoleh adalah sebagai berikut:

· Golongan darah A = 36%

· Golongan darah B = 34 %

· Golongan darah AB = 1 %

· Golongan darah O = 30%

B. Saran

a. Laboratorium

Hendaknya laboran terus membenahi alat-alat yang digunakan dalam praktikum. Kelengkapan alat sangat membantu praktikum berjalan lancar.

b. Asiasten

Hendaknya asisten dapat membimbing praktikan dengan lebih baik lagi agar praktikan dapat lebih terfokus dan mengerti mengenai hal-hal yang dipraktikumkan.

c. Praktikan

Para praktikan hendaknya mengikuti praktikum dengan baik agar segala hal yang menjadi tujuan praktikum dapat tercapai.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Genetika. http: //wiki/genetika/or.id. Diakses Rabu, 20 N0vember 2010

Corebima, AD. 1997. Genetika Mendel. Surabaya: Airlangga University Press.

Hartati. 2009. Penuntun Praktikum Genetika. Makassar: Universitas Negeri Makassar.

Jusuf, Muhammad. 2001. Genetika I. Jakarta: CV. INFOMEDIKA.

Suryo. 1984. Genetika Strata 1. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Wulangi, Kartolo. S. 1993. Prinsip-Prinsip Fisiologi Hewan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

drosophila Melanogaster

Metamorfosis pada Drosophila termasuk metamorfosis sempurna, yaitu dari telur – larva instar I – larva instar II – larva instar III – pupa – imago. Fase perkembangan dari telur Drosophila melanogaster dapat dilihat lebih jelas pada gambar di bawah ini.
Perkembangan dimulai segera setelah terjadi fertilisasi, yang terdiri dari dua periode. Pertama, periode embrionik di dalam telur pada saat fertilisasi sampai pada saat larva muda menetas dari telur dan ini terjadi dalam waktu kurang lebih 24 jam.
Dan pada saat seperti ini, larva tidak berhenti-berhenti untuk makan (Silvia, 2003)
Periode kedua adalah periode setelah menetas dari telur dan disebut perkembangan postembrionik yang dibagi menjadi tiga tahap, yaitu larva, pupa, dan imago (fase seksual dengan perkembangan pada sayap). Formasi lainnya pada perkembangan secara seksual terjadi pada saat dewasa (Silvia, 2003).
Telur Drosophila berbentuk benda kecil bulat panjang dan biasanya diletakkan di permukaan makanan. Betina dewasa mulai bertelur pada hari kedua setelah menjadi lalat dewasa dan meningkat hingga seminggu sampai betina meletakkan 50-75 telur perhari dan mungkin maksimum 400-500 buah dalam 10 hari. (Silvia, 2003). Telur Drosophila dilapisi oleh dua lapisan, yaitu satu selaput vitellin tipis yang mengelilingi sitoplasma dan suatu selaput tipis tapi kuat (Khorion) di bagian luar dan di anteriornya terdapat dua tangkai.tipis. Korion mempunyai kulit bagian luar yang keras dari telur tersebut (Borror, 1992)
Larva Drosophila berwarna putih, bersegmen, berbentuk seperti cacing, dan menggali dengan mulut berwarna hitam di dekat kepala. Untuk pernafasan pada trakea, terdapat sepasang spirakel yang keduanya berada pada ujung anterior dan posterior (Silvia, 2003).
Saat kutikula tidak lunak lagi, larva muda secara periodik berganti kulit untuk mencapai ukuran dewasa. Kutikula lama dibuang dan integumen baru diperluas dengan kecepatan makan yang tinggi. Selama periode pergantian kulit, larva disebut instar. Instar pertama adalah larva sesudah menetas sampai pergantian kulit pertama. Dan indikasi instar adalah ukuran larva dan jumlah gigi pada mulut hitamnya. Sesudah pergantian kulit yang kedua, larva (instar ketiga) makan hingga siap untuk membentuk pupa. Pada tahap terakhir, larva instar ketiga merayap ke atas permukaan medium makanan ke tempat yang kering dan berhenti bergerak. Dan jika dapat diringkas, pada Drosophila, destruksi sel-sel larva terjadi pada prose pergantian kulit (molting) yang berlangsung empat kali dengan tiga stadia instar : dari larva instar 1 ke instar II, dari larva instar II ke instar III, dari instar III ke pupa, dan dari pupa ke imago (Ashburner, 1985).
Selama makan, larva membuat saluran-saluran di dalam medium, dan jika terdapat banyak saluran maka pertumbuhan biakan dapat dikatakan berlangsung baik. Larva yang dewasa biasanya merayap naik pada dinding botol atau pada kertas tissue dalam botol. Dan disini larva akan melekatkan diri pada tempat kering dengan cairan seperti lem yang dihasilkan oleh kelenjar ludah dan kemudian membentuk pupa.
Saat larva Drosophila membentuk cangkang pupa, tubuhnya memendek, kutikula menjadi keras dan berpigmen, tanpa kepala dan sayap disebut larva instar 4. Formasi pupa ditandai dengan pembentukan kepala, bantalan sayap, dan kaki. Puparium (bentuk terluar pupa) menggunakan kutikula pada instar ketiga. Pada stadium pupa ini, larva dalam keadaan tidak aktif, dan dalam keadaan ini, larva berganti menjadi lalat dewasa (Ashburner, 1985)
Struktur dewasa tampak jelas selama periode pupa pada bagian kecil jaringan dorman yang sama seperti pada tahap embrio. Pembatasan jaringan preadult (sebelum dewasa) disebut anlagen. Fungsi utama dari pupa adalah untuk perkembangan luar dari anlagen ke bentuk dewasa (Silvia, 2003).
Dewasa pada Drosophila melanogaster dalam satu siklus hidupnya berusia sekitar 9 hari. Setelah keluar dari pupa, lalat buah warnanya masih pucat dan sayapnya belum terbentang. Sementara itu, lalat betina akan kawin setelah berumur 8 jam dan akan menyimpan sperma dalam jumlah yang sangat banyak dari lalat buah jantan.
Pada ujung anterior terdapat mikrophyle, tempat spermatozoa masuk ke dalam telur. Walaupun banyak sperma yang masuk ke dalam mikrophyle tapi hanya satu yang dapat berfertilisasi dengan pronuleus betina dan yang lainnya segera berabsorpsi dalam perkembangan jaringan embrio. (Borror, 1992)
Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan pada siklus hidupDrosophila
melanogaster diantaranya sebagai berikut:

• Suhu Lingkungan
Drosophila melanogaster mengalami siklus selama 8-11 hari dalam kondisi ideal.
Kondisi ideal yang dimaksud adalah suhu sekitar 25-28°C. Pada suhu ini lalat akan mengalami satu putaran siklus secara optimal. Sedangkan pada suhu rendah atau sekitar 180C, waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan siklus hidupnya relatif lebih lama dan lambat yaitu sekitar 18-20 hari. Pada suhu 30°C, lalat dewasa yang tumbuh akan steril.
• Ketersediaan Media Makanan
Jumlah telur Drosophila melanogaster yang dikeluarkan akan menurun apabila kekurangan makanan. Lalat buah dewasa yang kekurangan makanan akan menghasilkan larva berukuran kecil. Larva ini mampu membentuk pupa berukuran kecil, namun sering kali gagal berkembang menjadi individu dewasa. Beberapa dapat menjadi dewasa yang hanya dapat menghasilkan sedikit telur. Viabilitas dari telur- telur ini juga dipengaruhi oleh jenis dan jumlah makanan yang dimakan oleh larva betina (Shorrocks, 1972).
• Tingkat Kepadatan Botol Pemeliharaan
Botol medium sebaiknya diisi dengan medium buah yang cukup dan tidak terlalu padat. Selain itu, lalat buah yang dikembangbiakan di dalam botol pun sebaiknya tidak terlalu banyak, cukup beberapa pasang saja. PadaDrosophila
melanogaster dengan kondisi ideal dimana tersedia cukup ruang (tidak terlalu padat)
individu dewasa dapat hidup sampai kurang lebih 40 hari. Namun apabila kondisi botol medium terlalu padat akan menyebabkan menurunnya produksi telur dan meningkatnya jumlah kematian pada individu dewasa.
• Intensitas Cahaya

Drosophila melanogaster lebih menyukai cahaya remang-remang dan akan
mengalami pertumbuhan yang lambat selama berada di tempat yang gelap.
iri-ciri Umum Dhrosophila melanogaster
Lalat buah dan hewan dari class Insekta lainnya pada umumnya memiliki suatu seri segmen atau pembagian tubuh yang teratur. Segmen ini menyusun tiga bagian tubuh utama, yaitu kepala, thoraks, dan abdomen.

Perbedaan lalat jantan dan betina
jantan betina
1. Ukuran tubuh kecil Ukuran tubuh lbih besar
2. Sayap lebih pendek Sayap lebih panjang
3. Terdapat sisir kelamin (sex comb) Tidak memakai sisir kelamin
4. Ujung abdomen tumpul dan lebh hitaM UJUNG ABDOMEN RUNCING


Adapun ciri umum lain dari Drosophila melanogaster diantaranya:
1. Warna tubuh kuning kecoklatan dengan cincin berwarna hitam di tubuh bagian belakang.
2. Berukuran kecil, antara 3-5 mm.
1. Urat tepi sayap (costal vein) mempunyai dua bagian yang terinteruptus dekat dengan tubuhnya.
1. Sungut (arista) umumnya berbentuk bulu, memiliki 7-12 percabangan.
2. Crossvein posterior umumnya lurus, tidak melengkung.
3. Mata majemuk berbentuk bulat agak ellips dan berwana merah.
4. Terdapat mata oceli pada bagian atas kepala dengan ukuran lebih kecil dibanding mata majemuk.
5. Thorax berbulu-bulu dengan warna dasar putih, sedangkan abdomen bersegmen lima dan bergaris hitam
6. Sayap panjang, berwarna transparan, dan posisi bermula dari thorax.

Siklus Hidup dan Ciri-ciri pada Tahapan-tahapannya
Perkembangan dimulai segera setelah fertilisasi, yang terdiri dari dua periode. Periode pertama adalah periode embrionik di dalam telur pada saat fertilisasi hingga penetasan telur menjadi larva muda (proses ini berlangsung sekitar 24 jam). Periode kedua adalah periode setelah menetas dari telur atau periode postembrionik. Periode ini dibagi dalam tiga tahap yaitu larva, pupa, dan imago.



2.2 Ciri-ciri Umum Dhrosophila melanogaster
Lalat buah dan hewan dari class Insekta lainnya pada umumnya memiliki suatu seri segmen atau pembagian tubuh yang teratur. Segmen ini menyusun tiga bagian tubuh utama, yaitu kepala, thoraks, dan abdomen.
Ciri umum lainnya dari Dhrosophila melanogaster, antara lain :
1. memiliki mata majemuk berbentuk bulat agak ellips dan berwarna merah
2. memiliki warna tubuh kuning kecoklatan dengan cincin berwarna hitam di tubuh bagian belakang
3. berukuran kecil antara 3-5 mm (jantan dan betina memiliki ukuran yang berbeda)
4. Urat tepi sayap (costal vein) mempunyai dua bagian yang terinteruptus dekat dengan tubuhnya.
5. Sungut (arista) umumnya berbentuk bulu, memiliki 7-12 percabangan.
6. Crossvein posterior umumnya lurus, tidak melengkung.
7. terdapat mata oceli pada bagian atas kepala dengan ukuran lebih kecil dibanding mata majemuk.
8. Thorax berbulu-bulu dengan warna dasar putih, sedangkan abdomen bersegmen lima dan bergaris hitam
9. Sayap panjang, berwarna transparan, dan posisi bermula dari thorax

Siklus Hidup Lalat Buah


I. Tujuan
Untuk mendeskripsikan daur hidup Drosophila sp

II. Tinjauan Pustaka
Lalat buah merupakan salah satu jenis lalat yang sering dijumpai hinggap pada buah-buahan. Lalat ini lebih menyukai buah yang masak karena buah yang lebih masak mempunyai kandungan zat-zat yang dibutuhkan oleh keturunan lalat buah dan kelunakan buahnya memudahkan induk lalat untuk memasukkan telurnya di bawah permukaan kulit buah. Lalat buah dan Artrophoda lainnya mempunyai kontruksi modular, suatu seri segmen yang teratur. segemen ini menyusun tiga bagian tubuh utama, yaitu; kepala, thoraks, dan abdomen. Seperti hewan simetris bilateral lainnya.

Menurut Ellseth dan Baumgardner(1984), Lalat Dosophila mempunyai siklus hidup yang sangat pendek yaitu sekitar 12 hari pada suhu kamar. Kondisi dibawah ideal dapat menghasilkan 25 keturunan tiap tahun. Siklus hidup lalat ini akan semakin pendek apabila kondisi lingkungannya tinggi.
Menurut sistem taksonomi atau pengelompokan jenis makhluk hidup lalat Drosophila melanogaster dapat dikelompokkan sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Class : Insecta
Ordo : Diptera
Family : Drosophilidae
Subfamily : Drosophilinae
Genus : Drosophila
Species : Drosophila sp
Lalat buah dan Artrophoda lainnya mempunyai kontruksi modular, suatu seri segmen yang teratur. segmen ini menyusun tiga bagian tubuh utama, ayitu; kepala, thoraks, dan abdomen. seperti hewan simetris bilateral lainnya, Drosophila ini mempunyai poros anterior dan posterior (kepala-ekor) dan poros dorsoventral (punggung-perut). Pada Drosophila, determinan sitoplasmik yang sudah ada di dalam telur memberi informasi posisional untuk penempatan kedua poros ini bahkan sebelum fertilisasi. setelah fertilisasi, informasi dengan benar dan akhirnya akan memicu struktur yang khas dari setiap segmen.
Adapun ciri umum lain dari Drosophila melanogaster diantaranya:
1. Warna tubuh kuning kecoklatan dengan cincin berwarna hitam di tubuh bagian belakang.
2. Berukuran kecil, antara 3-5 mm.
1. Urat tepi sayap (costal vein) mempunyai dua bagian yang terinteruptus dekat dengan tubuhnya.
1. Sungut (arista) umumnya berbentuk bulu, memiliki 7-12 percabangan.
2. Crossvein posterior umumnya lurus, tidak melengkung.
3. Mata majemuk berbentuk bulat agak ellips dan berwana merah.
4. Terdapat mata oceli pada bagian atas kepala dengan ukuran lebih kecil dibanding mata majemuk.
5. Thorax berbulu-bulu dengan warna dasar putih, sedangkan abdomen bersegmen lima dan bergaris hitam
Sayap panjang, berwarna transparan, dan posisi bermula dari thorax.


III. Alat dan bahan
A. Alat
1. Blender
2. Tisu
3. Cover glass
4. Toples
5. Plastik
6. Jarum pentul
7. Karet
B. Bahan
1. Pisang yang matang
2. Agar-agar
3. Fermipan
4. Arang
5. Drosophila sp

C. Prosedur Kerja
1. Memblender pisang sampai halus.
2. Mencampurkan hasil blenderan dengan agar-agar, kemudian diebus hingga mendidih.
3. Hasil rebusan tersebut dicampur dengan arang hingga berwarna hitam.
4. Memasukkan ke dalam toples hingga dingin.
5. Membungkus gelas objek dengan tisu, diletakkan miring di atas agar-agar.
6. Memasukkan sepasang Drosophila sp ke dalam toples
7. Menutup toples dengan plastic, diikat dengan karet dan membuat lubang dengan menggunakan jarum pentul di atas permukaan plastik.
8. Mengamati daur hidup Drosophila sp dari hari pertama hingga terbentuk Drosophila baru



IV. Hasil pengamatan dan Pembahasan
a. Tahapan Ciri-ciri Umur
(hari/jam) Foto
Telur Berbentuk bulat lonjong, ukuran sekitar ± 0.5 mm, berwarna putih susu, pada ujung anteriornya terdapat dua tangkai kecil menyerupai sendok yang berfungsi agar telur tidak tenggelam, biasanya terdapat pada permukaan media. ± 19 jam
Larva instar 1 Berbentuk lonjong pipih, berwarna putih bening, berukuran ± 1 mm, bersegmen, berbentuk dan bergerak seperti cacing, belum memiliki spirakel anterior. 2 hari
Larva instar 2 Berbentuk lonjong pipih, berwarna putih, berukuran ± 2 mm, bersegmen, berbentuk dan bergerak seperti cacing, memiliki mulut dan gigi berwarna hitam untuk makan, memiliki spirakel anterior. 3 hari
Larva instar 3 Berbentuk lonjong pipih, berwarna putih, berukuran ± 3-4 mm, bersegmen, berbentuk dan bergerak seperti cacing, memiliki mulut dan gigi berwarna hitam lebih besar dan jelas terlihat dibanding larva instar 2, memiliki spirakel anterior dan terdapat beberapa tonjolan pada spirakel anteriornya. 4 hari
Prepupa Terbentuk setelah larva instar 3 merayap pada dinding botol, tidak aktif, melekatkan diri; berwarna putih; kutikula keras dan memendek; tanpa kepala dan sayap 6 hari
Pupa Tidak aktif dan melekatkan diri pada dinding botol, berwarna coklat, kutikula keras, memendek, dan besegmen. 7 hari
Imago Tubuh terbagi atas cephla, thorax, dan abdomen; bersayap transparan; memiliki mata majemuk biasanya berwarna merah; dan ciri-ciri lainnya menyerupai ciri lalat buah dewasa 8 hari


b. Pembahasan
Pengamatan daur hidup lalat buah diawali dengan membuat media dan memasukkan ebebrapa lalat buah kedalamnya. Sekitar ± 19 jam kemudian muncul bercak-bercak putih yang menempel pada dinding-dinding botol kultur. Berdasarkan literature bercak-bercak tersebut tidak lain adalah telur dari Drosophila sp. Berikutnya pada hari ketiga muncul ulat kecil yang mulai bergerak, ukurannya sedikit lebih besar dari telur dan warnanya putih. Fase ini merupakan fase larva instar 1. Pada fase ini umumnya ulat-ulat tersebut hidupnya dipermukaan medium karena merupakan sumber makanan dari lalat tersebut. Hari berikutnya fase larva instar 1 mulai memasuki fase larva instar dua, hal ini terlihat dari ukuran ulat yang semakin membesar serta pergerakan dari ulat yang semakin aktif. Ulat-ulat tersebut mulai memasuki medium walaupun masih disekitar permukaannya. Hari berikutnya, ukuran larva makin bertambah besar dan fase larva instar 3 mulai muncul. Pergerakan larva ini aktif di atas media maupun di dinding toples. Tahap setelah larva instar 3 adalah prepupa. Prepupa berbentuk lonjong dan terlihat lebih pendek jika dibandingkan dengan larva instar 3, berwarna putih-putih bening, letaknya pada dinding, dan terbentuk setelah larva instar 3 bergerak ke atas (dinding botol) dan tidak aktif lagi. Dan disini larva akan melekatkan diri pada tempat kering dengan cairan sperti lem yang dihasilkan oleh kelenjar ludah dan kemudian membentuk pupa (kepompong). Saat larva Drosophila membentuk cangkang pupa, tubuhnya memendek, kutikula menjadi keras dan berpigmen, tanpa kepala dan sayap disebut larva instar 4. Formasi pupa ditandai dengan pembentukan kepala, bantalan sayap, dan kaki. Puparium (bentuk terluar pupa) menggunakan kutikula pada instar ketiga. Pada stadium pupa ini, larva dalam keadaan tidak aktif, dan dalam keadaan ini, larva berganti menjadi lalat dewasa. Struktur dewasa tampak jelas selama periode pupa pada bagian kecil jaringan dorman yang sama seperti pada tahap embrio. Pembatasan jaringan preadult (sebelum dewasa) disebut anlagen. Fungsi utama dari pupa adalah untuk perkembangan luar dari anlagen ke bentuk dewasa. (Silvia, 2003) Dewasa pada Drosophila melanogaster dalam satu siklus hidupnya berusia sekitar 9 hari. Setelah keluar dari pupa, lalat buah warnanya masih pucat dan sayapnya belum terbentang. Sementara itu, lalat betina akan kawin setelah berumur 8 jam dan akan menyimpan sperma dalam jumlah yang sangat banyak dari lalat buah jantan.

V. kesimpulan
Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa :
1) Lama waktu siklus hidup Dhrosophila melanogaster yang ditangkap dari dewasa hingga menghasilkan imago memerlukan waktu sekitar 7 hari.
2) Dhrosophila sp mengalami metamorphosis sempurna dengan tahapan-tahapannya diawali oleh telur – larva instar 1 – larva instar 2 – larva instar 3 – prepupa – pupa – imago.