• Selamat Datang

    Ini adalah blog pribadi saya untuk mengembangkan keilmuan Biologi

  • Apa itu Biologi?

    Biologi adalah ilmu yang mempelajari tentang lingkungan biotik dan abiotik

  • UIN Makassar

    Saya kuliah di UIN Makassar jurusan S1 Biologi.

  • Biologipedia

    Biologipedia adalah salahsatu komunitas biologi online terbesar di Indonesia

  • Hobi saya

    Hobi saya adalah belajar, melakukan penelitan dan berselancar di dunia maya mencari informasi biologi

ePIDERMIS DAN DERIVAT-DERIVATNYA

(EPIDERMIS DAN DERIVAT-DERIVATNYA ~ GABUS)
Epidermis merupakan jaringan paling luar pada setiap organ tumbuhan,
misal : batang, akar, daun, dan sebagainya. Juga pada bunga, buah, biji sebelum
mengalami penebalan sekunder. Epidermis melindungi bagian dalam organ
tumbuhan, sehingga disebut jaringan pelindung.
Fungsi epidermis :
_ Sebagai pelindung terhadap hilangnya air karena adanya penguapan
_ Sebagai pelindung terhadap kerusakan mekanik
_ Sebagai pelindung terhadap perubahan toC
_ Sebagai pelindung terhadap hilangnya zat-zat makanan
Epidermis akar disebut juga epiblem/rhizodermis; hanya dijumpai pada
akar yang masih muda. Pada akar dan batang yang telah mengalami penebalan
sekunder, fungsi epidermis diambil alih oleh jaringan di bawahnya yaitu
periderm ~ jaringan gabus.
Epidermis Spermatophyta biasanya hanya terdiri 1 lapis sel. Tetapi pada
beberapa tumbuhan tertentu terdapat beberapa lapis sel epidermis, yang secara
morfologi dan fisiologi berbeda dengan jaringan dasar bagian dalam. Lapisan ini
secara ontogeni berkembang dari 2 jaringan meristem yang berbeda.
─ Lapisan epidermis dari protoderm ~ 1 lapisan terluar
─ Lapisan hipodermis/hidrodermis, dari meristem dasar terdiri dari beberapa
lapisan.
Lapisan epidermis dan hipodermis tersebut bersama-sama sering disebut sebagai
multiseriate epidermis/multiple epidermis/epidermis ganda. Epidermis seperti
ini dapat dijumpai pada beberapa tumbuhan tertentu. Misal : Moraceae (Ficus
elastica), Begoniaceae, Piperaceae, Chenopodiaceae. Velamen pada tanaman
anggrek juga merupakan epidermis multiseriate. Hipodermis sel-selnya sering
untuk menyimpan air disebut jaringan air/hidrodermis.
Derivat epidermis :
Adalah suatu bangunan/alat tambahan pada epidermis yang berasal dari sel
inisial yang sama dengan epidermis tertentu mempunyai struktur dan fungsi yang
berlainan dengan epidermis itu sendiri. Macam-macam derivat epidermis :
- Stoma(ta) - sel kipas - sel kersik
- trikoma(ta) - velamen - litokis, dll
Bentuk-bentuk sel epidermis, bermacam-macam, misalnya :
─ seperti kubus/prisma, tidak teratur dari permukaan merupakan segi
banyak, ada yang dindingnya berkelok-kelok tidak teratur, memanjang pada
Monokotil.
Sifat-sifat sel epidermis :
_ Selnya masih hidup, susunan rapat satu sama lain, tanpa ruang antar sel.
_ Plasma sel merupakan selaput, melekat pada dinding sel dengan sebuah
vakuola yang besar di pusat yang berisi cairan sel. Kadang-kadang berisi
antosian pada mahkota bunga dan daun Zebrina pendula dan kol merah
_ Plastida umumnya berupa leukoplas, hanya pada beberapa tumbuhan tertentu
beberapa Pteridophyta dan tumbuhan air dan tumbuhan yang hidup di tempat
teduh dapat dijumpai kloroplas.
_ Dinding luar yang berbatasan dengan udara luar relatif lebih tebal daripada
dinding sel sebelah dalam
Dinding luar epidermis biasanya mengandung kutin (senyawa lemak) terdapat di
antara / dalam ruang inter fibrilar / inter miselar selulosa. Di sebelah luar dinding
luar biasanya dilapisi dengan kutikula. Biasanya kutikula tidak dijumpai pada
akar yang tumbuh aktif. Tebalnya kutikula tidak sama pada semua tumbuhan,
umumnya lebih tebal pada tumbuhan yang hidup pada habitat kering. Pada
permukaan kutikula sering dijumpai endapan lilin yang menyebabkan daun dan
buah menjadi berkilat. Dijumpai ada tanaman : Brassica, Dianthus, Saccharum,
daun Musa untuk menjaga kelembaban permukaan
Keterangan mengenai beberapa derivat epidermis :
1. STOMATA
Fungsi stomata :
_ Sebagai jalan masuknya CO2 dari udara pada proses fotosintesis
_ Sebagai jalan penguapan (transpirasi)
_ Sebagai jalan pernafasan (respirasi)
Susunan anatomi sebuah stoma dilihat pada penampang lintang :
1. sel penutup
2. sel tetangga
3. porus
4. dinding perut
5. dinding punggung
6. dinding luar
7. dinding dalam
8. rigi luar
9. rigi dalam
TIPE-TIPE STOMA : ditinjau dari berbagai sudut :
Ditinjau dari bentuk dan letak penebalan dinding sel penutup serta arah
membukanya sel penutup.
a) Tipe Amaryllidaceae b) Tipe Gramineae
c) Tipe Mnium d) Tipe Heleborus
Menurut jumlah dan letak sel tetangga pada Dicotyledoneae
a) Tipe Ranunculaceae / anomositik / irregular celled
- jumlah sel tetangga tdak tertentu
- sel tetangga = epidermis
- terdapat : Ranunculaceae,
Sambucus sp, Heleborus sp dan
Cucurbita sp
b) Tipe Caryophyllaceae/Labiatae/diasitik/cross-celled
- 2 sel tetangga
- dinding pemisah tegak lurus
panjang stoma
- terdapat : Labiatae, misa :
Orthosiphon stamineus
c) Tipe Rubiaceae/parasitik/paralel-celled
- 2 sel tetangga
- dinding pemisah searah poros
panjang stoma
- terdapat : Rubiaceae, Erythroxylon
coca, Phaseolus sp
d) Tipe Cruciferae/Solanaceae/anisositik/unequal-celled
- umumnya 3 sel tetangga
- salah satu lebih kecil/lebih besar
dari yanglain
- terdapat : Solanaceae, misal :
Datura metel, Nicotiana tabacum
e) Tipe aktinositik/radiate celled
- 4 atau lebih sel tetangga
- tersusun radier
- terdapat : Proteaceae
f) Tipe siklositik modifikasi tipe aktinositik
- 4 atau lebih sel tetangga
- tersusun teratur membentuk
lingkaran mengelilingi stoma
- terdapat : Proteaceae
Stebbins & Khush (dalam Fahn, 1991) mengemukakan tipe-tipe stoma pada
Monokotil.
1. Sel penutup / sel penjaga dikelilingi oleh 4-6 sel tetangga
Umumnya dijumpai pada anggota Araceae, Commelinaceae, Musaceae,
Cannaceae, Zingibraceae.
2. Sel penutup stoma dikelilingi oleh 4-6 sel tetangga, yang 2 bentuknya
bundar, lebih kecil dan terdapat di ujung sel penutup stoma.
Umumnya dijumpai pada anggota Palmae, Pandanaceae, Cyclantaceae.
3. Sel penutup dikelilingi oleh 2 sel tetangga yang sama dengannya, 1 setiap
sisi.
Contoh pada anggota Pontederiaceae, Flagellariaceae, Butomales,
Alismatales, Potamogetonales, Cyperales, Graminales, Juncales, dan
lain-lain.
4. Sel penjaga tidak bergabung dengan sel sel tambahan yang manapun.
Contoh pada Liliales (kecuali Pontederiaceae) Dioscoreales,
Amaryllidales, Iridales, Orchidales, dll.
Menurut letak sel-sel penutup terhadap permukaan epidermis :
a) Tipe paneropor Mesophyta
b) Tipe kriptopor Xerophyta, Pinus sp, Ficus sp
c) Tipe yang menonjol di atas permukaan helaian daun tumbuhan air yang
daunnya terapung (misal : Teratai)
Menurut sejarah terjadinya :
a) Mesogenus : sel penutup dan sel tetangga berasal dari sel induk yang
sama
b) Perigenus : sel induk tidak sama, sel tetangga berasal dari sel yang
terletak di sekitar sel induk penutup stoma
c) Mesoperigenus : sel penutup dan salah satu sel tetangga sel induknya
sama, sel tetangga yang lain dari sel induk di sekitar s.i.
penutup stoma
2. TRIKOMA(TA) (Rambut Daun)
_ Trikoma adalah alat tambahan pada epidermis yang berupa tonjolan/rambutrambut
_ Dijumpai pada seluruh organ : daun, batang, bunga, buah, akar; tetapi
terutama terdapat pada daun disebut rambut daun.
Berdasar jumlah sel penyusunnya, dibedakan menjadi :
─ Trikoma uniseluler (tunggal) : berupa sebuah sel, umumnya tidak
bercabang tetapi kadang-kadang bercabang.
─ Trikoma multiseluler (bersel banyak) : merupakan 1 deretan sel/beberapa
lapis (deretan) sel. Ada yang terdiri dari bagian tangkai + bagian kepala;
bercabang seperti pohon (dendroid) atau dapat juga mempunyai cabang
yang memanjang dan mendatar (stellate hairs)
Berdasar ada tidaknya fungsi sekresi, dibedakan menjadi :
a) Trikoma non glanduler (tanpa kelenjar) : sering disebut “ rambut biasa “
(rambut pelindung) :
- bila sel-selnya tidk berfungsi sebagai jaringan sekretoris
Contoh :
_ Papillae (papila) : terdapat pada corolla/perhiasan bunga
_ Rambut uniseluler sederhana / multiseluler uniseriat : umumnya dijumpai
pada Lauraceae, Moraceae, Triticum, Hordeum, Gossypium (rambut biji),
Ceiba pentandra (rambut buah).
_ Rambut skuamiform (bentuk sisik) yang multiseluler dan memipih secara
nyata sekali
- tidak bertangkai duduk disebut sisik
- bertangkai rambut berbentuk perisai (peltata)
_ Rambut multiseluler yang berbentuk bintang (stelata) atau berbentuk
seperti tepat lilin (kandelabrum)
- Rambut bintang : pada Styrax officinalis, Hibiscus tiliaceus
(Fahn Gb. 89 – 2,3 287)
- Rambut kandelabrum : Verbasum (Fahn Gb 89 – 1 / hal 287)
_ Rambut kasar multiseriat : pada pangkal tangkai daun Portulaca oleracea
pada Schizanthus dan spesies-spesies tertentu dari Compositae
(Fahn Gb 89 – 4 / hal 287)
_ Rambut uniseluler pada tembakau (Nicotiana tabacum)
_ Rambut-rambut pada akar (rambut akar) ~ adalah sel epidermis
berbentuk tabung memanjang, umumnya tidak bercabang, dinding tipis,
vakuola lebar, umumnya uniseluler kecuali pada Kalanchoe fedschenkoi
pada akar udara ditemukan rambut akar yang bercabang. Dihasilkan oleh
sel epidermis tertentu yang disebut trikoblast / sel berambut / sel pilifer.
Sel ini umumnya kurang memanjang dibandingkan sel epidermis yang
lain. Rambut akar dibentuk pada akar muda, di luar daerah meristematik.
Umumnya umur rambut akar singkat (beberapa hari). Dengan kematian
rambut akar dan bila sel tidak mengelupas dinding sel epidermis
menjadi bergabus dan berlignin.
b) trikoma glanduler /rambut kelenjar
Apabila selnya atau salah satu selnya mempunyai fungsi sekresi
sebagai sel/ jaringan sekretoris. Trikom yang terdiri dari bagian tangkai dan
kepala, umumnya fungsi sekresi di bagian kepala.
Contoh :
_ Trikom sekresi garam : rambut seperti gelembung yang terdiri atas sel
sekresi yang besar di ujung tangkai yang terdiri atas 1 atau beberapa sel.
Misal : pada Atriplex portulacoides
_ Kelenjar multiseluler terdiri atas beberapa sel sekresi dan sel pengumpul di
pangkal. Misal :
- Kelenjar kapur pada Plumbago capensis
- Kelenjar garam pada Limonium, Avicenia dan Tamarix
_ Hidatoda trikom :
Trikom yang mengeluarkan larutan encer yang berisi beberapa bahan
organik dan anorganik
Misal : pada daun muda dan batang Cicer arientinum : terdiri dari tangkai
uniseriat dan kepala lonjong yang bersel banyak.
_ Trikoma sekresi nektar / klj madu : misal pada Abutilon, corolla Lonicera
yaponica, Trapaeolum majus (Lihat Fahn / Gb. 257 & 258)
_ Trikoma sekresi getah : misal pada ochrea Rumex dan Rheum getah
terutama polisakarida
_ Rambut sengat : misal pada Urtica, Fleurya interupta (lateng)
- terdiri sel tunggal, panjang, pangkal melebar seperi kandung kemih,
bagian atas menyempit seperti jarum, ujung mengalami penebalan
(silika, agak ke bawah dengan kalsium). Di dalam sel berisi cairan :
Histamin, Acetil cholin & Na-formiat yang menyebabkan rasa gatal.
_ Koleter : trikom yang menghsilkan bahan lengket disebut rambut
pere kat. Berbentuk seperti gelembung, terdiri dari bagian kepala dan
tangkai, baik uniseluler maupun muli seluler. Tangkai kadang-kadang
tidak ada. Misal daun dan tunas-tunas Rosa, Aesculus, Coffea dan lainlain.
_ Pada Ortosiphon stamineus : 1 sel tangkai dan 4 sel kepala
Mentha piperita : sel kepala : 8 sel kepala
Di dalam sel trikoma umumnya tipis dan mengandung selulosa, tetapi ada yang
mengalami lignifikasi sehingga dindingnya tebal.
Fungsi trikoma pada masing-masing organ :
_ Pada akar : untuk memperluas bidang penyerapan air dan unsur-unsur
hara
_ Pada daun : untuk mengurangi besarnya penguapan, mengurangi
gangguan hewan/manusia, meneruskan rangsang (trikoma
kaya akan plasma)
_ Pada bunga : nectaria mengeluarkan madu untuk menarik serangga
membantu penyerbukan. Pada kepala putik
mengeluarkan zat perekat ss mudah melekat
terjadi penyerbukan pembuahan
_ Pada biji : biji menjadi ringan mudah diterbangkan
oleh angin membantu penyebaran
- mencegah gangguan serangga yang akan merusak biji
menyerap air biji lekas berkecambah dan tumbuh
_ Pada batang : untuk mengurangi penguapan dan untuk memanjat (Kaktus,
Rotan)
KEGUNAAN TRIKOMA bagi manusia, antara lain :
_ Rambut biji kapas (Gossypium sp) bahan penting untuk tekstil
_ Rambut buah kapok (Ceiba pentandra) bahan kasur
_ Rambut kelenjar daun Mentha piperita bahan obat
mengandung minyak permen
_ Rambut kelenjar daun teh (Camellia sinensis) aroma pada air teh
Beda antara Trikoma, Emergensia dan Spina
_ Trikoma : tonjolan pada permukaan organ yang dibentuk oleh sel epidermis
mudah lepas
_ Emergensia : tonjolan pada permukaan organ yang tidak hanya dibentuk oleh
sel-sel epitelium tetapi juga dibentuk oleh sel-sel sub epidermal, yaitu sel-sel
atau jaringan-jaringan yang terdapat di daerah cortex.
Contoh : - tonjolan-tonjolan pada buah kecubung (Datura metel)
- rambut-rambut pada kulit buah rambutan
- duri tempel pada tanaman mawar masih agak mudah
lepas
_ Spina : adalah duri dalam arti yang sebenarnya. Tonjolan pada permukaan
epidermis yang dibentuk oleh sel-sel atau jaringan di daerah stele.
Contoh : duri pada batang Bougainviella spectabilis
3. SEL KIPAS/BULLIFORM CELL :
Dijumpai pada Gramineae dan anggota Monocotyledoneae yang lain,
kecuali Helobiae, berupa sel-sel berdinding tipis dengan vakuola yang besar,
ukuran sel lebih besar dibandingkan sel-sel epidermis. Sel-sel ini dapat terdapat
di seluruh permukaan adaksial daun/berupa deretan sejajar yang terpisah di
antara tulang-tulang daun. Sel-sel ini tersusun seperti kipas dan sel pusatnya
adalah yang paling tinggi. Sel kipas mengandung banyak ar dan tanpa/hampir
tidak mengandung kloroplas.
Fungsi sel kipas :
Berfungsi dalam proses pembukaan gulungan daun dalam tunas dan untuk
mengurangi penguapan yang berlebihan
4. SEL KERSIK DAN SEL GABUS
Pada Gramineae, terdapat di antara sel-sel epidermis. Yang memanjang
yang disebut sel panjang terdapat juga yang dinamakan sel pendek. Sel pendek
ini terdiri atas 2 tipe sel, yaitu : sel silika dan sel gabus. Kedua macam sel ini
sering dibentuk dalam pasangan di sepanjang daun.
Sel silika : mengandung badan-badan silika (SiO2) yang berbentuk
bulatan, elips, halter/pelana. Dijumpai juga pada tanaman Cyperaceae,
Equisetinae dan Ficus dan beberapa Monocotyledoneae lainnya.
Kandungan silikon dalam sel muda rendah, akumulasinya tinggi pada sel
yang mengalami proses menua. Sel gabus : dinding selnya disisipi suberin
(gabus). Fungsi sel gabus dan sel silika : memperkuat batang, kulit batang
menjadi keras.
5. LITOKIS
Dijumpai pada daun Ficus sp (beringin), di antara sel-sel ep ada yang
mengalami penebalan secara centripetal yang tersusun oleh tangkai selulosa
dengan deposisi/endapan Ca-carbonat yang membentuk bangunan seperti
sarang lebah dan disebut sistolit.
BAHAN PRAKTIKUM
UNIT 8
Preparat 1 : Epidermis batang Sacchharum officinarum (dalam air)
Familia : Gramineae/Poaceae
Perbesaran : Kuat
Keterangan :
1. Sel silika
2. Sel gabus
3. Sel panjang
4. Sel pendek
Preparat 2 : Irisan epidermis bawah daun Nicotiana tabacum (dalam air)
Familia : Solanaceae
Perbesaran : Kuat
Keterangan :
1. Sel epidermis
2. Sel apikal
3. Sel medial
4. Sel basal
5. Trikoma
Preparat 3 : Irisan epidermis bawah daun Zea mays (dalam air)
Familia : Gramineae/Poaceae
Perbesaran : Kuat
Keterangan :
1. Sel epidermis
2. Sel tetangga
3. Sel penutup stoma
4. Porus
Preparat 4 : Irisan epidermis bawah daun Orthosiphon stamineus (dalam air)
Familia : Labiatae/Labiatae
Perbesaran : Kuat
Keterangan :
1. Stoma
2. Sel tetangga
SOAL-SOAL LATIHAN
1. Sebutkan minimal 4 macam derivat epidermis.
2. Apa fungsi stoma ?
3. Sebutkan dan gambarkan 2 macam bentuk sel penutup stoma.
4. Sebutkan tipe stoma pada daun tembakau.
5. Apakah tipe stoma pada daun jagung ?
6. Apakah beda antara trikoma glanduler dan non glanduler ?
7. Sebutkan fungsi trikoma bagi tumbuhan.
8. Sebutkan derivat epidermis yang terdapat pada kulit batang tebu

Medium Pemeliharaan Lalat buah



BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mahasiswa biologi pasa zaman ini sangat beruntung karena kita berada di tempat yang tepat pada saat yang tepat. biologi telah melejit sebagai ilmu sentral. biologi kini menjadi ilmu penghubung dari semua ilmu alam, dan merupakan persimpangan tersibuk dan mempertemukan ilmu alam dan ilmu sosial. Biologi telah menjadi berita berhari-hari. kemajuan-kemajuan dalam bioteknologi, ilmu kesehatan, ilmu petanian dan pengawasan lingkungan hanyalah sebagian kecil dari kenyataan betapa biologi begitu mempengaruhi kehidupan masyarakat melebihi masa-masa sebelumnya.
Biologi adalah ilmu yang mengundang inspirasi, biologi adalah ilmu yang penting. Kini kita semakin dekat menuju pemahaman mengenai bagaimana sel tunggal tumbuh atau berkembang menjadi tumbuhan dan hewan, bagaiman fikiran manusia bekerja, dan bagaimana kehidupan yang begitu beragam di muka bumi ini. Untuk mahasiswa dan pengajar biologi tiada masa terindah seindah masa ini. masa ini adalah masa yang menantang untuk belajar biologi.
Salah satu pokok pembahasan di dalam ilmu biologi adalah genetika dan evolusi yang dimana selain mempelajari teori tentang genetika dan evolusi kita juga mempelajari praktikumnya. Yang dimana dalah satu unit praktikum dalam praktikum genetika dan evolusi adalah medium pemeliharaan lalat buah (Drosophila melanogaster). Untuk memelihara lalat buah dapat kita menggunakan berbagai macam medium. Ada medium campuran antara pisang ambon dan tape ketela pohon, ada juga medium campuran pisang ambon, agar-agar, gula merah, ragi, nipagin, sorbic acid, dan aquadest dan diamana medium yang akan digunakan dalam percobaan ini adalah medium yang kedua.
Oleh karena itu untuk mengetahui bagaimana cara pembuatan medium pemeliharaan lalat buah (Drosophila melanogaster), maka dilakukanlah praktikum ini.

B. Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui cara pembuatan medium pemeliharaan lalat buah (Drosophila melaoigaster).

C. Waktu dan Tempat
Hari/Tanggal : Kamis : 23 November 2010
Pukul : 09.00 - 11.00 WITA
Tempat : Lab. Pendidikan Biologi
UIN Alauddin Makassar


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Genetika adalah cabang biologi yang berurusan dengan hereditas dan variasi. Unit-unit herediter yang ditramsmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya (dengan kata lain diwariskan) disebut gen. Gen terletak dalam molekul-molekul panjang asam deoksiribonukleat (deoxyribonucleic acid, DNA) yang ada di dalam semua sel. DNA, bersama dengan suatu matriks protein, membentuk nucleoprotein dan terorganisasi menjadi struktur yang disebut kromosom yang ditemukan di dalam nucleus atau daerah inti sel. Sebuah gen mengandung kode informasi bagi produksi protein. Normalnya, DNA adalah molekul yang stabil dengan kapasitas bereplikasi sendiri. Terkadang, bias terjadi perubahan spontan pada suatu DNA. Perubahan itu, disebut mutasi, dapat menyebabkan perubahan kode DNA yang mengakibatkan produksi protein yang salah satu tidak lengka (Stansfield, 2007).
Lalat buah (Drosophila melanogaster) mungkin bagi kebanyakan orang merupakan hewan yang mengganggu dan menjijikan apalagi hewan ini sering kali menjadi musuh bagi para penjual buah-buahan maupun penjual minuman “jus”. Kehadirannya akan membuat para pembeli enggan membeli buah atau jus bila tempat menyimpan buah-buahan ataupun sisa buah yg busuk atau kulit buah yang dibuang di tempat sampah banyak dikerumuni oleh lalat ini. Namun siapa sangka, lalat buah di tangan orang biologi terutama bagi orang yang berkecimpung dalam bidang Genetika justru lalat buah menjadi “hewan primadona”. Ya..ya lalat ini memgang peranan yang penting dalam beberapa pengujian genetika, seperti dalam pengujian Hipotesis Mendel, baik Hukum Mendel 1 atau Hukum Segregasi dan Hukum Mendel II atau Hukum Pemisahan Secara Bebas, pautan seks, crossing over, kromosm politen dan lain sebagainya (Anonima, 2009).
Untuk pemeliharaan stock Drosophila melanogaster dapat digunakan berbagai macam-macam medium. Medium yang m ula-mula dipergunakan adalah campuran antara pisang ambon dan tape ketela pohon dengan perbandingan 6 : 1. Medium tersebut dipakai selama lebih dari 15 tahun. Pada tahun 1984 mulai digunakan beberapa medium yang dicobakan untuk dapat pula ppemeliharaan jenis-jenis Drosiphila lainnya dan beberapa tahun terakhir ini telah digunakan resep yang baru. Hal ini disebabkan oleh karena kualitas tape dan pisang ambon yang tidak seragam, sehingga dirasakan perluuntuk memperoleh medium yang lebih padat dan dapat diandalkan. Resep baru yang akan dipakai merupakan modifikasi dari resep yang telah ada dan yang disesuaikan dengan kondisi Indonesia (Hartati, 2009).
Panen telur pada lalat buah dilakukan sejak lalat berumur 10 hari selama satu-tiga minggu. Botol pengumpul telur dipasang pada lubang yang telah tersedia pada kurungan. Botol pengumpul telur, yang merupakan buah tiruan, adalah botol plastik ukuran Ø 5 x 30 cm, dindingnya berlubang-lubangan Ø 0,2 – 0,5 mm dengan kerapatan 1 x 1 cm. Sebelum dipasang, botol diisi potongan karet busa jenuh air atau jus buah untuk menarik lalat, dan untuk mempertahankan kelembapan di dalam botol, agar telur yang diletakkan tidak mengalami kekeringan. Botol dipasang selama 24 jam, biasanya mulai 08.00 pagi. Telur diletakkan oleh lalat dewasa dengan ovipositornya kedalam lubang-lubang di dinding botol, sehingga massa telur akan terkumpul pada lubang-lubang tersebut. Panen telur dilakukan pagi hari berikutnya. Telur dikumpulkan dengan cara membasuh permukaan dalam botol, dan menampungnya di atas nampan, kemudian disaring. Karena telur yang bernas tenggelam, maka dapat dengan mudah dipisahkan dari yang rusak. Massa telur yang dihasilkan dapat diukur secara volumetric, satu cc telur berisi ± 18.000 butir.
Pengujian mutu telur dapat dilakukan dengan mengamati persentase pene-tasannya. Dari massa telur diambil sampel 4 x 100 butir untuk diletakkan di atas kertas saring warna gelap yang jenuh air. Kertas diletakkan di atas cawan Petri dan diinkubasi selama 2 x 24 jam. Jumlah telur yang menetas diamati di bawah mikroskop (Anonimb, 2009).
Dalam sejarah genetika sebagai ilmu, relative hanya baru-baru ini sajalah DNA menjadi pusat perhatian. Lebih dulu, perhatian dipusatkan pada hereditas, yaitu pada pola-pola pewarisan sifat yang ada (mata biri, warna merah bunga, ekor pendek) dari induk ke keturunananya. Diperkirakan bahwa sifat-sifat yang diwariskan ini diatur oleh gen-gen ditata secara linear sepanjang kromosom pada hewan dan tumbuhan tinggi. Disusunlah “peta” urutan gen pada kromosom, dan ditelitilah banyak rincian mengenai penurunana atau transmisigen dari generasi ke generasi, jauh sebelum banyak yang diketahui tentang apa gen itu dan bagaimana kerjanya (Goodenough, 1988).
Orang yang pertama melakukan percobaan perkawinan silang adalah Gregor Mendel seorang rahib Austria yang hidup pada tahun1822-1884 di sebuah biara laki-laki di kota kecil brunn. Dia dating di biara itu pada tahun 1851 sebagai anak miskin. Dalam tahun 1851 ia dikirim ke universitas wina untuk belajar ilmu pengetahuan alam, tetapi ia tidak mendapatkan nilai baik untuk fisika dan matematika (Suryo, 2006).
Seorang ahli genetika bernama Morgan meneliti pada pembastaran lalat buah. Ia membastarakan lalat buah jantan mata putih (disingkat jantan putih) dengan lalat buah betina mata merah (disingkat beina merah). Diperoleh keturunan F1 yang semuanya mata merah, baik yang jantan maupun yang betina. Bila jantan F1 (mata merah) dibastarrkan dengan betina F1 (mata merah), akan diperoleh keturunan F2 : 3 bagian mata merah, dan 1 bagian mata putih. Jadi di sini mata merah dominan terhadap mata putih. Dari turunana F2 yang diperoleh tadi, yang betina semuanya mata merah, serta yang jantan 50% mata merah dan 50% mata putih (Prawoto, 1994).



BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Timbangan
b. Baskom
c. Pengaduk
d. Kompor gas
e. Botol Kultur
f. panci
g. Pisau
h. Gelas ukur
i. Lumpang dan alu

2. Bahan
a. Pisang ambon
b. Gula merah
c. Agar-agar
d. Aquadest
e. Ragi
f. Nipagin
g. Sorbic acid
h. Plastik
i. Karet gelang
j. Ketas saring

B. Prosedur Kerja
1. Menyediakan semua alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Mengupas kulit pisang ambon lalu memutongnya kecil-kecil lalu ditimbang.
3. Menghaluskan pisang ambon yang telah dipitong kecil hingga betul-betul halus dengan menggunakan lumpang dan alu.
4. Mencampurkan gula merah dengan aquadest lalu memasaknya hingga larut dan mendidih.
5. Mencampurkan agar-agar dan pisang ambon yang telah di haluskan ke dalam campuran gula merah dan aquadest yang telah mendidih, kemudian mengaduknya hingga rata sampai matang.
6. Membiarkan adonan mendidih selama ± 15 menit.
7. Melarutkan ragi roti tersebut ke dalam air dan mencampurkannya ke dalam adonan yang sudah mulai menurun sekitar 400C.
8. Mencampurkan anti jamur yang telah dipersiapkan sebelumnya.
9. Menuangkan adonan yang masih panas ke dalam botol kultur yang telah disterilkan terlebih dahulu.
10. Memasukkan kertas saring ke dalam botol kultur yang telah di beri adonan.
11. Botol biakan siap diperguakan apabila telah dingin.



B. Pembahasan
Percobaan petama pada praktikum genetika dan evolusi adalah membuat medium pemeliharaan lalat buah (Drsophila melanogaster). Dimana dalam pembuatan medium pemeliharaannya digunakan berbagai macam bahan. Bahan yang digunakan yaitu pisang ambon, agar-agar, gula merah, ragi, nipagin, sorbic acid dan aquadest. Bahan ini kemudian diolah sesuai dengan prosedur kerja yang ada. Bahan yang digunakan memiliki peranan yang penting dimana pisang ambon dan gula merah berfungsi sebagai sumber karbohidrat, agar-agar digunakan agar adonan yang dihasilkan lebih padat, ragi berfungsi untuk mengembangkan aadonan, nipagin sebagai anti jamur, sorbic acid untuk mencegah timbulnya bakteri, dan aquadest berfungsi sebagai pelarut. Setiap bahan memiliki takaran masing-masing sesuai dengan jumlah botol kultur yang akan dijadikan media pemeliharaan. Per 30 botol medium digunakan 300 gram pisang ambon, 7 gram agar-agar, 150 gram gula merah, 20 gram ragi, 7 ml nipagin, 5 ml sorbic acid dan 411 ml aquadest. Karena pada percobaan kali ini kami menggunakan 60 botol kultur yang akan dijadikan medium, maka setiap takaran bahan dapat dikali 2 agar dapat mencukupi semua wadah atau botol kultur.
Adapun Fungsi masing-masing alat yang digunakan adalah :
1. Timbangan berfungsi sebagai alat unruk menimbang bahan-bahan yang akan digunakan.
2. Baskom berfungsi sebagai alat untuk menyimpan bahan-bahan yang telah ditimbang.
3. Pengaduk berfungsi sebagai alat untuk mengaduk bahan yang telah dicampurkan di dalam panci pada saat dimasak.
4. Kompor gas berfungsi sebagai alat untuk memasak bahan-bahan hingga mendidih.
5. Botol kultur berfungsi sebagai tempat untuk menyimpan medium pemeliharaan lalat buah.
6. Panic berfungsi sebagai wadah untuk menampung campuran bahan yang akan di masak dan di didihkan.
7. Pisau berfingsi sebagai alat untuk memotong-motong bahan yang digunakan.
8. Gelas ukur berfungsi sebagai wadah untuk menampung bahan yang bersifat cair.
9. Lumpang dan alu berfungsi sebagai alat untuk menghaluskan pisang ambon.
10. Gunting berfungsi sebagai alat untuk memotong kertas saring dan plastik.
Medium yang telah selesai di buat masih banyak memiliki kekurangan karena lalat buah yang di masukkan ke dalam medium sebagian besar mati atau meninggal. Sehingga tidak dapat berkembang biak.




BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari praktikum ini adalah cara pembuatan medium pemeliharaan lalat buah tidak dilakukan secara asala-asalan melainkan setiap bahan memiliki takaran tertentu.
B. Saran
a. Laboratorium
Adapun saran yang dapat saya berikan untuk laboratorium atau laboran adalah hendaknya laboran dapat lebih melengkapi semua alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum.
b. Asiasten
Hendaknya asisten lebih memperhatikan lagi praktikannya dalam melakukan percobaan agar semua paktikan dapat bersungguh-sungguh dalam melakukan praktikkum.
c. Praktikan
Para praktikan dalam melakukan praktikum hendaknya dapat bersungguh-sungguh dan tidak main-main agar dapat memperoleh hasil yang maksimal.






DAFTAR PUSTAKA

Anonima.2009. file:///C:/Documents%20and%20Settings/user/My%20Documents/Lili
S%20FiLe/teknik-pembiakan-massal-hama-lalat-buah.html. Diakses pada tgl 25 Oktober 2010

Anonimb. 2009. www.duniasatwa.com/forums/archive/index.php/t-102.html. Diakses
pada hari senin 19 Oktober 2009

Goodenough, Ursula. 1988. Genetika Edisi Ketiga Jilid I. Jakarta. Erlangga.

Hartati. S.si, M.Si. 2009. Penuntun Praktikum Genetika. Makassar: Jurusan Biologi
FMIPA UNM

Prawoto, Drs. 1994. Genetika dan Evolusi. Jakarta. Depdikbud

Suryo. 2005. Genetika Strata I. Yogyakarta. UGM

Stansfield, William. 2006. Genetika Edisi keempat. Jakarta. Erlangga.

kromosom kelenjar ludah lalat buah

kromosom raksasa
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Mahasiswa biologi pasa zaman ini sangat beruntung karena kita berada di tempat yang tepat pada saat yang tepat. biologi telah melejit sebagai ilmu sentral. biologi kini menjadi ilmu penghubung dari semua ilmu alam, dan merupakan persimpangan tersibuk dan mempertemukan ilmu alam dan ilmu sosial. Biologi telah menjadi berita berhari-hari. kemajuan-kemajuan dalam bioteknologi, ilmu kesehatan, ilmu petanian dan pengawasan lingkungan hanyalah sebagian kecil dari kenyataan betapa biologi begitu mempengaruhi kehidupan masyarakat melebihi masa-masa sebelumnya.
Biologi adalah ilmu yang mengundang inspirasi, biologi adalah ilmu yang penting. Kini kita semakin dekat menuju pemahaman mengenai bagaimana sel tunggal tumbuh atau berkembang menjadi tumbuhan dan hewan, bagaiman fikiran manusia bekerja, dan bagaimana kehidupan yang begitu beragam di muka bumi ini. Untuk mahasiswa dan pengajar biologi tiada masa terindah seindah masa ini. masa ini adalah masa yang menantang untuk belajar biologi.
Salah satu pokok pembahasan di dalam ilmu biologi adalah genetika dan evolusi yang dimana selain mempelajari teori tentang genetika dan evolusi kita juga mempelajari praktikumnya. Yang dimana dalah satu unit praktikum dalam praktikum genetika dan evolusi adalah kromosom raksasa. Dimana dalam mengamati kromosom raksasa yang digunakan adalah larva lalat buah Drosophila melanogaster instar III dan dimana kromosom rakssa pada larva itu terletak pada bagian anteriornya yang tepatnya pada kelenjar ludah. Kkromosom raksasa memiliki ukuran yang lebih besar dari kromosom biasanya.
Oleh karena itu untuk mengetahui bagaimana bentuk dan morfologi dari kromosom raksasa maka dilakukanlah pecobaan kromosom raksasa ini.
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengamati kromosom raksasa pada kelenjar ludah larva instar III dari lalat buah (Drosophila melanogaster).
C. Manfaat
Manfaat dari praktikum ini adalah praktikan dapat mengamati secara lansung kromosom raksasa pada kelenjar ludah dari larva instar III dari lalat buah (Drosophila melanogaster).



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Kromosom raksasa yang terdapat pada kelenjar ludah Drosophila melanogaster terbentuk karena proses endomitosis dimana strand kromosom mereplikasi terus menerus tanpa terjadi pembelahan inti. Proses endomitosis menghasilkan bentukan kromosom yang besar dan panjang seperti pita, atau yang biasa disebut kromosom polytene. Dalam anonim disebutkan bahwa kromosom dalam kelenjar ludah Drosophila melanogaster membelah beberapa kali tetapi masing-masing strand tidak membelah. Strand-strand tersebut tetap menempel antara satu dengan yang lain. Dengan kata lain, kromosom raksasa ini memiliki banyak copy gen yang tidak memisah antara satu dengan yang lain, sehingga di dalam satu sel terdapat kopian informasi dari beberapa gen di dalam kromosom. Namun saat terjadi endoreplikasi yang berulang-ulang pada kromosom, ada bagian yang tidak ikut membelah dengan maksimal, yakni daerah sentromer. Sebagai hasilnya, sentromer kromosom tergabung bersama-sama menjadi bentukan padat yang dinamakan sentrosenter (Gardner, 1991).
Kromosom ini disebut kromosom raksasa karena sesungguhnya kromosom ini adalah kromosom interfase yang memiliki ukuran lebih panjang daripada kromosom metaphase sehingga kromosom ini dapat dilihat (pada fase interfase) dimana pada kondisi tersebut semua kromosom lain tidak terlihat. Kromosom raksasa dibentuk oleh peristiwa endomitosis, yaitu suatu replikasi yang menghasilkan banyak kromosom yang tidak terpisah satu dengan yang lain. Struktur kromosom raksasa ini tersusun atas pita terang dan pita gelap. Pita terang mengandung eukromatin dengan lilitan yang renggang sedangkan pita gelap mengandung heterokromatin dengan lilitan yang padat, mengalami kondensasi, dan berperan aktif dalam pembelahan. DNA umumnya terdapat pada pita-pita yang gelap (Kimball, 1990).
Dalam sel yang sedang membelah, kromosom biasanya dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop biasa. Akan tetapi untuk mempelajari struktur halusnya, harus digunakan sebuah mikroskop elektron, karena dapat memberikan perbesaran jauh lebih kuat. Kromosom dibedakan atas autosom (kromosom tubuh) dan kromosom kelamin (kromosom seks). Kecuali beberapa hewan tertentu, maka kebanyakan makhluk memiliki sepasang kromosom kelamin dan sisanya merupakan autosom. Lalat buah (Drosophila melanogaster) yang sering digunakan untuk penyelidikan genetika mempunyai 8 kromosom, 6 autosom dan 2 kromosom kelamin (Suryo, 1986).
Untuk mendapatkan kromosom raksasa ini perlu didapatkan terlebih dahulu kelenjar ludah larva instar 3 Drosophila melanogaster. Kelenjar ludah ini terletak di daerah antara kepala dengan leher. Warna kelenjar ludah adalah transparan dan akan berubah menjadi keruh saat ditetesi larutan fiksatif FAA. Kelenjar ludah Drosophila melanogaster berjumlah sepasang dengan bentuk seperti ginjal. Sebelum diamati, terlebih dahulu kelenjar ludah yang telah didapatkan ditetesi dengan acetocarmin. Pemberian acetocarmin ini bertujuan untuk memberikan pewarnaan pada kromosom sehingga kromosom lebih mudah diamati. Kromosom raksasa yang ditemukan berwarna transparan dengan suatu ciri yang khas yang mudah dikenali, yaitu terdapat garis-garis pita gelap dan terang berseling teratur. Dengan perbesaran mikroskop lemah, kromosom ini sudah dapat diamati dengan cukup jelas (Iqbal, 2007).
Jenis kelamin kita merupakan salah satu karakter fenotipik kia yang lebih nyata. Meskipun perbedaan anatomis dan fisiologis antara pria dan wanita banyak, dasar kromosom seksnya sedikit lebih sederhana. Pada manusia dan mamalia lain, seperti pada lalat buah, ada dua varietas kromosom seks dilambangkan dengan X dan Y. Seseorang yang mewarisi dua sifat X, satu dari masing-masing orang tuanya biasanta berkembang dari sebuah zigot yang mengandung satu kromosom X dan satu kromosom Y. Disamping dalam menentukan jenis kelamin, kromosm seks, terutama kromosom X, memiliki gen-gen untuk banyak karakter yang tidak berkaitan dengan seks (Campbell, 2001).
Kromosom raksasa biasanya ditemukan pada stadium larva. Hal ini dapat dimengerti karena dengan adanya replikasi kromosom yang berulang-ulang (untuk membentuk kromosom raksasa) ini akan menguntungkan bagi larva yang sedang tumbuh dengan cepat daripada jika sel tersebut tetap diploid. Pembentukan kromosom raksasa tidak hanya terjadi pada kelenjar ludah larva prepupa Drosophila melanogaster tetapi juga terjadi pada sel-sel perawat pada ovarium, sel folikel yang mengelilingi oosit, sel-sel lemak, sel usus dan histoblas abdominal. Jadi selain pada kelenjar ludah, kromosom raksasa juga ditemukan pada sel-sel tersebut. Perbedaannya adalah pada letak penggembungan. Seperti halnya kromosom biasa lainnya, kromosom raksasa ini juga berfungsi untuk mengatur kegiatan metabolisme di dalam sel dan mengatur semua sistem kerja di dalam sel tersebut (Iqbal, 2007).
Kromosom raksasa biasanya ditemukan pada stadium larva. Hal ini dapat dimengerti karena dengan adanya replikasi kromosom yang berulang-ulang (untuk membentuk kromosom raksasa) ini akan menguntungkan bagi larva yang sedang tumbuh dengan cepat daripada jika sel tersebut tetap diploid. Pembentukan kromosom raksasa tidak hanya terjadi pada kelenjar ludah larva prepupa Drosophila melanogaster tetapi juga terjadi pada sel-sel perawat pada ovarium, sel folikel yang mengelilingi oosit, sel-sel lemak, sel usus dan histoblas abdominal. Jadi selain pada kelenjar ludah, kromosom raksasa juga ditemukan pada sel-sel tersebut. Perbedaannya adalah pada letak penggembungan. Seperti halnya kromosom biasa lainnya, kromosom raksasa ini juga berfungsi untuk mengatur kegiatan metabolisme di dalam sel dan mengatur semua sistem kerja di dalam sel tersebut (Anonim, 2009).

BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Waktu dan Tempat
Hari/tanggal : Jumat, 13 Oktober 2009
Waktu : Pukul 09.10 s.d 10.40 WITA
Tempat : Laboratorium Biologi Lantai II Barat FMIPA UNM
B. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Mikroskop
b. Cawan Petri
c. Pinset
d. Objek glass
e. Deck glass
f. Bunsen
2. Bahan
a. Larva instar III lalat buah (Drosophila melanogaster)
b. Acetokarmin
c. NaCL fisiologis
C. Prosedur Kerja
1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Mengeluarkan larva Drosophila melnogaster dari mediumnya.
3. Memasukkan larva ke dalam cawan petri yang berisi NaCL fisiologis.
4. Meletakkan segera larva di atas object glass dan menggambar morfologinya.
5. Selanjutnya memotong bagian kepala larva dengan silet dan meletakkan di objek glass dan menutup dengan deck glass, dan mengamati di bawah mikroskop.
6. Mengambil kembali kepala larva dan melakukan kegiatan seperti nomor 4 namun ditetesi dengan acetokarmin.
7. Memfiksasi sampai zat warna mengering di atas Bunsen.
8. Mengamati dengan menggunakan mikroskop binokuler.










BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil pengamatan






B. Pembahasan
Pada praktikum genetika dan evolusi pada kesempatan ini, kami akan melakukan percobaan tentang kromosom raksasa. Pada percobaan kali ini bahan yang digunakan adalah larva instar III dari lalat buah (Drosophila melanogaster). Yang akan diamati pada larva lalat buah tersebut adalah bagian anteriornya yang dimana pada daerah anterior tersebut terdapat kelenjar ludah yang dimana pada kelenjar ludah tersebut terdapat kromosom raksasa. Kromosom ini disebut kromosom raksasa karena sesungguhnya kromosom ini adalah kromosom interfase yang memiliki ukuran lebih panjang daripada kromosom metaphase sehingga kromosom ini dapat dilihat (pada fase interfase) dimana pada kondisi tersebut semua kromosom lain tidak terlihat. Kromosom raksasa dibentuk oleh peristiwa endomitosis. Struktur kromosom raksasa ini tersusun atas pita terang dan pita gelap. Diamana pita terang mengandung eukromatin dengan lilitan yang jarang-jarang atau longgar sedangkan pita gelap mengandung heterokromatin dengan lilitan yang padat. Kelenjar ludah ini terletak di daerah antara kepala dengan leher pada bagian anterior larva. Kelenjar ludah lalat buah (Drosophila melanogaster) berjumlah dua buah atau sepasang dengan bentuk seperti ginjal. Sebelum diamati, terlebih dahulu kelenjar ludah yang telah didapatkan ditetesi dengan acetocarmin. Pemberian acetocarmin ini berfungsi untuk memberikan pewarnaan pada kromosom sehingga kromosom lebih mudah untuk diamati. Dengan perbesaran mikroskop lemah, kromosom ini sudah dapat diamati dengan cukup jelas. Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data dapat diketahui bahwa kromosom raksasa yang ditemukan pada kelenjar ludah lalat buah (Drosophila melanogaster) memiliki bentukan yang besar dan panjang. Berbeda dengan kromosom yang biasa, kromosom raksasa ini dapat diamati pada mikroskop dengan perbesaran lemah. Secara umum, kromosom raksasa ini sama dengan kromosom biasa, salah satu perbedaan terletak pada proses terbentuknya dan jumlah lengannya.
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan dari percobaan yang telah dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa Kromosom raksasa adalah kromoson yang ukurannya lebih besar dari kromosom biasa. Memiliki 2 lengan atau lebih. Pada kelenjar ludah dari larva Drosophila melanogaster instar III memiliki bentuk seperti benang, ukurannya lebih panjang dibandingkan ukuran kromosom pada umumnya.
B. Saran
a. Laboratorium
Adapun saran yang dapat saya berikan untuk laboratorium atau laboran adalah hendaknya laboran dapat lebih melengkapi semua alat dan bahan yang akan digunakan dalam praktikum.
b. Asiasten
Hendaknya asisten lebih memperhatikan lagi praktikannya dalam melakukan percobaan agar semua paktikan dapat bersungguh-sungguh dalam melakukan praktikkum.
c. Praktikan
Para praktikan dalam melakukan praktikum hendaknya dapat bersungguh-sungguh dan tidak main-main agar dapat memperoleh hasil yang maksimal.





DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2009. Kromosom Yang Dipengaruhi Oleh Seks. http://wiki/Gen/seks.or.id Diakses pada tanggal 12 November 2009.

Gardner, E.J, dkk. 1991. Principles of Genetics. New York: John Wiley and Sons, Inc.

Campbell. 2001. Biologi Edisi Kelima Jilid I. Jakarta: Erlangga

Iqbal, Mochammad. 2007. Pengamatan Kromosom Raksasa pada Drosophila melanogaster. Http://www.bio_um.blogospot.com. Diakses Jum’at, 28 Maret 2008.

Kimball, W, John. 1990. Biologi Jilid I. Jakarta: Erlangga.

Manning, Gerard. 2006. A Quick and Simple Introduction to Drosophila melanogaster, (Online), (www.ceolas.org/fly/intro.html, diakses tanggal 10 Maret 2007).

Suryo. 1986. Genetika Manusia. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Alel Ganda

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Biologi adalah ilmu yang mengundang inspirasi, biologi adalah ilmu yang penting. Biologi merupakan ilmu alam yang mengarah kepada pemahaman mengenai bagaimana sel tunggal tumbuh atau berkembang menjadi tumbuhan dan hewan, bagaiman fikiran manusia bekerja, dan bagaimana kehidupan yang begitu beragam di muka bumi ini.

Cabang ilmu genetika yang merupakan salah satu cabang ilmu dari Biologi sekarang ini juga telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Penurunan sifat yang merupakan cakupan yang paling umum dalam genetika telah menghasilkan penemuan-penemuan terbaru yang patut diperhitungkan. Mutasi, kloning, bayi tabung dan masih banyak lagi rekayasa-rekayasa genetika lainnya mulai di praktekkan oleh para ahli biologi di seluruh dunia.

Beberapa sifat keturunan pada manusia yang ditentukan oleh pengaruh alel ganda, yaitu warna rambut pada kelinci, warna mata pada Drosophila melanogaster dan golongan darah pada manusia. Namun, pada praktikum kali ini kami hanya melakukan percobaan khususnya mengenai golongan darah pada manusia sebagai herediter yang ditentukan oleh alel ganda karena mudah diperoleh. Selain untuk lebih mengetahui mengenai golongan darah sebagai pengaruh peranan alel ganda, praktikan juga dapat menentukan sendiri golongan darahnya. Bahan utama yang digunakan berupa serum anti A dan serum anti B yang diteteskan pada darah probandus. Penentuan golongan darah didasarkan atas ada tidaknya suatu zat tertentu di dalam sel darah merah, yaitu dikenal dengan nama aglutinogen (antigen) dengan mengamati aglutinasi yang terjadi pada cairan darah. Oleh karena itu, perlu dipahami mengenai aglutinogen (antigen), aglutinin (antibodi) dan aglutinasi untuk memudahkan dalam melakukan praktikum.

B. Tujuan

Kegiatan praktikum ini bertujuan untuk mengenal beberapa sifat keturunan oleh pengaruh alel ganda dan mencoba menetapkan genotip.



BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Genetika berasal dari bahasa yaitu Yunani γέννω atau genno yang berarti "melahirkan" merupakan cabang biologi yang penting saat ini. Ilmu ini mempelajari berbagai aspek yang menyangkut pewarisan sifat dan variasi sifat pada organisme maupun suborganisme (seperti virus dan prion). Ada pula yang dengan singkat mengatakan, genetika adalah ilmu tentang gen. Nama "genetika" diperkenalkan oleh William Bateson pada suatu surat pribadi kepada Adam Chadwick dan ia menggunakannya pada Konferensi Internasional tentang Genetika ke-3 pada tahun 1906. Meskipun orang biasanya menetapkan genetika dimulai dengan ditemukannya kembali naskah artikel yang ditulis Gregor Mendel pada tahun 1900, sebetulnya kajian genetika sudah dikenal sejak masa prasejarah, seperti domestikasi dan pengembangan trah-trah murni (pemuliaan) ternak dan tanaman. Orang juga sudah mengenal efek persilangan dan perkawinan sekerabat serta membuat sejumlah prosedur dan peraturan mengenai hal tersebut sejak sebelum genetika berdiri sebagai ilmu yang mandiri. Silsilah tentang penyakit pada keluarga, misalnya, sudah dikaji orang sebelum itu. Kala itu, kajian semacam ini disebut "ilmu pewarisan" atau hereditas (Anonim, 2009).

Kita ketahui bahwa pengertian alel ganda ialah bahwa dalam suatu populasi individu jumlah jenis alel pada suatu lokus terdapat lebih dari dua. Contoh yang sudah cukup luas dikenal ialah golongan darah pada manusia. Di kenal ada empat jenis golongan darah, yaitu A, B, AB dan O, yang dikendalikan oleh tiga alel, yaitu IA, IB, dan i. Alel-alel tersebut bertanggung jawab dalam mengendalikan pembentukan antigen sel darah, alel IA dan alel IB masing-masing mengendalikan pembentukan antigen A dan antigen B, sedangkan alel i tidak membentuk antigen. Antara alel IA dengan alel IB terdapat hubungan kodominan, yang berarti genotipe IA IB dapat emproduksi antigen A dan antigen B. Alel IA dan alel IB kedua-duanya terhadap alel i. Dengan keterangan tersebut maka akan diperoleh genotype IA IA dan IA Ii (golongan darah A) akan memproduksi antigen A, genotype IB IB dan IB Ii (golongan darah B) akan menghasilkan antigen B; genotype IA IB (golongan darah AB) mempunyai antigen A dan B, sedangkan genotype ii (golongan darah O) tidak memproduksi antigen

(Jusuf, 2001).

Pengertian alel ganda adalah faktor yang memiliki lebih dari dua macam alel, sekalipun tidak ada satu pun makhluk diploid yang mempunyai lebih dari dua macam alel untuk tiap faktor. Sebab timbulnya alel ganda adalah peristiwa mutasi gen. Stanfield (1983) mengatakan “Karena suatu gen dapat berubah menjadi bentuk-bentuk alternatif oleh proses mutasi, secara teoritis di dalam suatu populasi mungkin dijumpai sejumlah besar alela” (Corebima, 1997).

Pada manusia, hewan dan tumbuhan dikenal beberapa sifat keturunan yang ditentukan oleh suatu seri alel ganda. Golongan darah ABO yang ditemukan oleh Landsteiner pada tahun 1900 dan faktor Rh yang ditemukan oleh Landsteiner bersama Weiner pada tahun 1942 juga ditentukan oleh alel ganda. Untuk golongan darah tipe ABO misalnya, dikenal oleh alel ganda IA, IB, dan i (Hartati, 2009).

Banyak para ilmuan mengikuti penemuan Landsteiner tentang penggumpalan sel-sel darah merah dan pengertian tentang reaksi antigen-antibodi, maka penyelidikan selanjutnya memberi penegasan mengenai adanya dua antibodi alamiah di dalam serum darah dan dua antigen pada permukaan dari eritrosit. Salah seorang dapat membentuk salah satu atau dua antibodi atau sama sekali tidak membentuknya. Demikian pula dengan antigennya. Dua antigen itu disebut antigen –A dan antigen –B, sedangkan dua antibodi disebut anti –A (atau α) dan anti –B (atau β). Melalui tes darah maka setiap orang dapat mengetahui golongan darahnya. Berdasarkan sifat kimianya, antigen –A dan –B merupakan mukopolisakharida, terdiri dari protein dan gula. Dalam dua antigen itu bagian proteinnya sama, tetapi bagian gulanya merupakan dasar kekhasan

antigen-antibodi. Golongan darah seseorang ditentukan oleh macamnya antigen yang dibentuknya (Suryo, 1986).

Ada bermacam golongan darah pada manusia, salah satu contoh itu herediter (keturunan) yang ditentukan oleh alel ganda. Berhubungan dengan itu, golongan darah seseorang dapat mempunyai arti penting dalam kehidupan. Pada permulan abad ini (tahun 1900 dan 1901) K. Landsteiner menemukan bahwa penggumpalan darah (aglutinasi) kadang-kadang terjadi apabila eritrosit (sel darah merah) seseorang dicampur dengan serum darah orang lain. Akan tetapi pada orang lain, campuran tadi tidak mengakibatkan penggumpalan darah. Berdasarkan reaksi tadi, maka Landsteiner membagi orang menjadi tiga golongan, yaitu A, B dan O. Golongan yang keempat jarang sekali dijumpai, yaitu golongan darah AB, telah ditemukan oleh dua orang mahasiswa Landsteiner dalam tahun 1902, ialah A. V. von Decastello dan A. Sturli (Suryo, 1984).

Dilihat dari golongan ABO, manusia dikelompokkan menjadi 4 golongan. Penggolongan ini didasarkan atas ada tidaknya suatu zat tertentu di dalam sel darah merah, yaitu yang dikenal dengan nama aglutinogen (antigen). Ada dua macam aglutinogen yaitu aglutinogen A dan aglutinogen B. Aglutinogen merupakan polisakarida, dan terdapat tidak saja terbatas di dalam sel darah merah tetapi juga kelenjar ludah, pankreas, hati, ginjal, paru-paru, testes dan semen. (Kartolo, 1993).

BAB III

METODE PRAKTIKUM

A. Waktu dan Tempat

Hari/ Tanggal :Rabu, 19 November 2010

Waktu :09.00 sampai 11.00 WITA

Tempat :Laboratorium Pendidikan biologi
Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar


B. Alat dan Bahan

a. Alat

1. 2 buah plat tetes

2. 3 buah / blood lancet

b. Bahan

1. 3 tetes Darah probandus

2. 3 tetes Anti serum (serum anti –A dan anti –B)

3. Alkohol 70% secukupnya

4. Kapas secukupnya


C. Prosedur Kerja

Adapun langkah kerja pelaksanaan praktikum ini adalah sebagai berikut:

1. Mengambil darah dengan membersihkan salah satu ujung jari dengan kapas yang dibasahi alkohol 70% dan membersihkan pula blood lancet dengan alkohol. Membiarkan alkohol mengering.

2. Menusukkan blood lancet ke jari yang telah dibersihkan dengan alkohol.

3. Membuang darah pertama yang keluar dari luka.

4. Meneteskan darah kedua di atas plat tetes yang diberi tanda A dan dan tanda B, kemudian meneteskan serum anti A pada darah (tanda A), dan serum anti B pada darah (tanda B).

5. Mengaduk darah yang telah ditetesi serum anti A dan anti B, mengamati pembekuan darah.

6. Apabila terjadi penggumpalan hanya pada A, maka bergolongan darah A. Bila terjadi penggumpalan pada B maka golongan darah B. Bila terjadi penggumpalan keduanya maka golongan darah AB dan bila tidak ada penggumpalan maka golongan darah O.

7. Mencatat hasil pengamatan.


BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan

No


Nama Golongan darah

Fadli Kamal B
Muallimah AB
Aminullah 0
Lutfuatul H 0

D L L

B. Pembahasan

Setelah mengikuti praktikum dengan unit Alel Ganda ini, praktikan memiliki pengetahuan mengenai cara mengidentifikasi golongan darah pada manusia. Hasil dari pengidentifikasian yang dilakukan pada setiap praktikan (probandus) adalah sebagai berikut sebagai berikut:

· Golongan darah A = 17 probandus dengan persentase sebanyak 36%

· Golongan darah B = 16 probandus dengan persentase sebanyak 34%

· Golongan darah AB = 1 probandus dengan persentase sebanyak 1%

· Golongan darah O = 13 probandus dengan persentase sebanyak 30%

Bahan utama yang digunakan dalam melakukan identifikasi adalah berupa serum anti A dan serum anti B yang diteteskan pada darah probandus. Jika pada anti serum A terjadi penggumpalan (aglutinasi) sedangkan anti serum B tidak, maka golongan darah probandus adalah A. Bila terjadi sebaliknya, maka golongan darah probandus adalah B. Bila kedua-duanya mengalami penggumpalan maka golongan darah probandus adalah AB. Bila kedua-duanya tidak mengalami penggumpalan maka golongan darah probandus adalah O.

Menurut Jusuf (2001), dikenal ada empat jenis golongan darah, yaitu A, B, AB dan O, yang dikendalikan oleh tiga alel, yaitu IA, IB, dan i. Alel-alel tersebut bertanggung jawab dalam mengendalikan pembentukan antigen sel darah, alel IA dan alel IB masing-masing mengendalikan pembentukan antigen A dan antigen B, sedangkan alel i tidak membentuk antigen. Antara alel IA dengan alel IB terdapat hubungan kodominan, yang berarti genotipe IA IB dapat memproduksi antigen A dan antigen B. Alel IA dan alel IB kedua-duanya terhadap alel i. Dengan keterangan tersebut maka akan diperoleh genotipe IA IA dan IA Ii (golongan darah A) akan memproduksi antigen A, genotipe IB IB dan IB Ii (golongan darah B) akan menghasilkan antigen B; genotipe IA IB (golongan darah AB) mempunyai antigen A dan B, sedangkan genotipe ii (golongan darah O) tidak memproduksi antigen.

Dalam transfusi darah golongan darah AB dapat menerima sumbangan dari semua golongan darah (tidak akan terjadi penggumpalan), sebaliknya golongan darah O hanya dapat menerima sumbangan dari golongan darah yang sama, golongan darah lainnya akan digumpalkan. Bila dilihat dari sudut donor, golongan darah O dapat menyumbangkan darah untuk semua golongan darah, sedangkan golongan darah AB dapat menjadi donor hanya untuk golongan darah yang sama. Golongan darah A dan B dapat menjadi penerima sumbangan dari golongan darah O dan dari golongan darah sejenis dan dapat menjadi donor untuk golongan AB dan golongan sejenis (Jusuf, 2001).

Dari penjelasan teori di atas dapat diketahui bahwa sangat penting mengenal golongan darah sebelum melakukan transfuse darah. Pada serum darah merah akan dibentuk anti bodi. Pada serum darah merah akan dibentuk anti bodi yang dapat mengenali anti gen sel darah merahnya dan antigen asing yang masuk dari luar. Antibodi akan menggumpalkan antigen yang berbeda dari antigen yang dibentuk oleh sel darah merahnya. Jadi antibodi golongan darah A (yang memproduksi antigen A) akan menggumpalkan antigen B dan antibodi golongan darah B (yang memproduksi antigen B) akan menggumpalkan anti gen A. Jika antibody tidak dapat menggumpalkan antigen A dan B karena memproduksi dengan baik antigen tersebut maka golongan darahnya adalah AB. Sebaliknya, jika tidak mengandung antigen baik A maupun B, antibodinya akan menganggap kedua antigen tersebut sebagai zat asing sehingga kedua-duanya akan digumpalkan maka golongan darahnya adalah golongan darah O.

Menurut Suryo (1984), menurunnya alel-alel ganda dapat diikuti dari beberapa contoh perkawinan berikut ini:

1. Suami-istri masing-masing bergolongan darah O akan mempunyai keturunan bergolongan darah O saja.

2. Seorang laki-laki bergolongan darah A menikah dengan seorang perempuan bergolongan darah O. Kemungkinan keturunannya, 50 % bergolongan darah A dan 50 % bergolongan darah O.

3. Seorang laki-laki bergolongan darah B menikah dengan seorang perempuan bergolongan darah B pula. Kemungkinan keturunannya, 75 % bergolongan darah B dan 25 % bergolongan darah O.

4. Pria bergolongan darah B menikah dengan wanita bergolongan darah A. Kemungkinan keturunannya, 25 % bergolongan darah AB dan 25 % bergolongan darah A, 25 % bergolongan darah B dan 25 % bergolongan darah O.


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Golongan darah manusia merupakan salah satu sifat keturunan yang ditentukan oleh alel ganda. Genotipe golongan darah A adalah IA IA dan IA Ii, genotipe golongan darah B adalah IB IB dan IB Ii, genotipe golongan darah AB adalah IA IB dan genotipe golongan darah O adalah ii.

2. Persentase golongan darah yang diperoleh adalah sebagai berikut:

· Golongan darah A = 36%

· Golongan darah B = 34 %

· Golongan darah AB = 1 %

· Golongan darah O = 30%

B. Saran

a. Laboratorium

Hendaknya laboran terus membenahi alat-alat yang digunakan dalam praktikum. Kelengkapan alat sangat membantu praktikum berjalan lancar.

b. Asiasten

Hendaknya asisten dapat membimbing praktikan dengan lebih baik lagi agar praktikan dapat lebih terfokus dan mengerti mengenai hal-hal yang dipraktikumkan.

c. Praktikan

Para praktikan hendaknya mengikuti praktikum dengan baik agar segala hal yang menjadi tujuan praktikum dapat tercapai.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2009. Genetika. http: //wiki/genetika/or.id. Diakses Rabu, 20 N0vember 2010

Corebima, AD. 1997. Genetika Mendel. Surabaya: Airlangga University Press.

Hartati. 2009. Penuntun Praktikum Genetika. Makassar: Universitas Negeri Makassar.

Jusuf, Muhammad. 2001. Genetika I. Jakarta: CV. INFOMEDIKA.

Suryo. 1984. Genetika Strata 1. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Wulangi, Kartolo. S. 1993. Prinsip-Prinsip Fisiologi Hewan. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.